BAB 26

1636 Kata

Pagi itu, ketenangan di kediaman Azlan terusik oleh kehadiran tamu yang sama sekali tidak terduga. Azlan berdiri di ambang pintu depan dengan alis bertaut rapat, menatap sosok pria yang berdiri santai di hadapannya. Selama lima tahun menempati rumah ini, baru kali inilah Altair—sepupunya sendiri—menginjakkan kaki di sana. Terlebih lagi, pria itu datang pagi-pagi buta tanpa kabar sedikit pun. “Aku sedang lari pagi di sekitar sini saat Kaira menelepon. Katanya dia ingin sekali makan bubur ayam,” ucap Altair ringan, suaranya terdengar begitu akrab. Mata Azlan tertuju pada bungkusan plastik yang menggantung di tangan sepupunya. Rasa tidak suka mendadak merayapi dadanya. Bagaimana bisa istrinya sendiri justru menghubungi pria lain saat menginginkan sesuatu? “Baiklah. Berikan buburnya padaku,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN