Plak! Suara tamparan keras itu memecah kesunyian di ruang tamu keluarga Kareem. Tubuh Khalisa terhuyung ke samping, tangannya refleks memegang pipi yang kini terasa panas dan berdenyut. Ia menatap ayahnya dengan mata yang membelalak lebar, penuh keterkejutan. “Dasar bodoh! Beraninya kamu melakukan hal serendah itu, Khalisa. Apa kamu ingin keluarga Kareem jadi gelandangan dalam semalam?” teriak Emir dengan napas memburu. Amarahnya sudah di ubun-ubun begitu mendengar kabar bahwa Azlan murka dan mengusir putrinya. Samira segera menghambur, memeluk tubuh Khalisa yang gemetar. Ia menatap suaminya dengan sorot mata tajam dan penuh kemarahan. “Beraninya kamu memukul Khalisa, Mas! Dia sedang terluka, dia baru saja diusir, dan kamu malah menambah penderitaannya?” “Masih untung cuma dipukul! Set

