Kaira membuka kelopak matanya perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh indranya adalah aroma cairan antiseptik yang khas dan langit-langit ruangan yang putih bersih. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadaran yang sempat tercecer. Sensasi dingin di punggung tangan kirinya menyadarkannya bahwa sebotol infus sedang mengalirkan cairan ke dalam tubuhnya. Di sisi kanannya, ia merasakan kehangatan yang familiar. Azlan tertidur dalam posisi duduk yang tampak tidak nyaman, dengan kepala bersandar di tepi ranjang pasien. Tangan besarnya menggenggam jemari Kaira begitu erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, istrinya akan menghilang. “Mas Azlan ...” panggil Kaira, suaranya parau dan sangat kecil. Azlan melenguh pendek, lalu matanya langsung terbuka lebar. Begitu m

