Langkah kaki Azlan terdengar terburu-buru saat ia menyusuri koridor menuju ruang kerjanya. Pikirannya tidak tenang sejak menerima pesan singkat dari Alan, orang kepercayaannya yang bertugas menyelidiki masa lalu. Ada sesuatu yang mendesak, sesuatu yang berkaitan dengan malam terkutuk lima tahun lalu di Amerika—malam yang telah mengikatnya dalam pernikahan hambar dengan Khalisa. “Aku akan memberitahu Faris untuk menunda rapat berikutnya,” ucap Altair, asisten pribadinya, yang hanya dibalas dengan anggukan singkat oleh Azlan. Begitu pintu ruang kerja tertutup, Azlan segera duduk di kursi kebesarannya. Di hadapannya, Alan sudah menunggu dengan sebuah map cokelat tebal di atas meja. “Bagaimana? Apa kamu menemukan sesuatu yang pasti?” tanya Azlan tanpa basa-basi. Napasnya masih sedikit membu

