Ketegangan di area servis rumah itu memuncak. Azlan berdiri tegak dengan wajah dingin, sementara di hadapannya, Khalisa duduk di kursi roda dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara kecemasan dan rasa percaya diri yang dipaksakan. Di belakang mereka, para asisten rumah tangga tertunduk lesu, tidak berani mengangkat wajah. “Untuk apa Mas meminta kami semua berkumpul di sini?” tanya Khalisa, memecah keheningan yang menyesakkan. Suaranya terdengar sedikit gemetar meski ia berusaha menutupinya. Namun, Azlan tetap diam, matanya menyapu satu per satu wajah pekerjanya. “Lalu di mana Kaira?” Khalisa melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih tajam. “Mas ingin menjatuhkan talak pada Kaira, kan? Kalau begitu minta Bibi untuk memanggilnya ke sini agar semua jelas.” Brakk! Azlan memuk

