Suasana di ruang tengah kediaman utama Alzahir terasa berat sore itu. Safira berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang nyata saat melihat beberapa koper milik Kaira sudah berjajar rapi di dekat pintu. Bagi Safira, kepergian menantu bungsunya ini terasa seperti kehilangan bagian dari dirinya sendiri. “Kenapa harus pindah secepat ini? Padahal Mama sangat senang kamu ada di sini,” protes Safira untuk kesekian kalinya. Ia menatap Kaira dengan pandangan menuntut, seolah berharap wanita muda di depannya akan berubah pikiran. Kaira mendekat, menatap ibu mertuanya dengan tatapan sendu yang tulus. “Kaira juga sangat senang tinggal di sini, Mah. Selama beberapa hari ini, Kaira merasa benar-benar memiliki keluarga yang utuh.” Suara Kaira yang sedikit bergetar merunt

