Malam pertama di rumah pribadi mereka tidaklah sehangat yang dibayangkan Azlan. Begitu kaki mereka melangkah melewati ambang pintu, atmosfer seketika berubah. Khalisa, yang sudah menunggu di sofa ruang tengah dengan kaki yang terbebat perban, langsung memasang wajah sendu yang sangat familier bagi Kaira. “Mas Azlan tidur dengan Kakak malam ini, tidak masalah kan, Kaira?” tanya Khalisa pelan. Suaranya dibuat serapuh mungkin, seolah ia adalah porselen yang bisa pecah kapan saja. Kaira berdiri mematung di samping koper-kopernya. Ia menangkap binar kemenangan di mata kakaknya. “Iya, Kak,” sahut Kaira dengan nada bicara yang terdengar pasrah, hampir menyedihkan. Khalisa tersenyum puas. Namun, itu belum cukup baginya. Ia harus memastikan Kaira tahu siapa penguasa di rumah ini. “Karena kaki Ka

