Sinar matahari pagi menyusup melalui celah gorden ruang makan, memantul di atas permukaan meja marmer yang tertata rapi. Aroma kopi dan roti panggang seharusnya memberikan ketenangan, namun suasana di meja itu terasa ganjil. Khalisa duduk dengan anggun, sesekali mengaduk bubur di mangkuknya meski pandangannya terus melirik ke arah lorong kamar. “Kaira belum bangun juga? Ck, dasar anak itu,” gumam Khalisa, suaranya sengaja dikeraskan agar Azlan yang duduk di hadapannya mendengar. “Bi Parni, tolong bangunkan adikku. Minta dia segera turun untuk sarapan.” Khalisa menyandarkan punggungnya, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Ia sedang membayangkan betapa menyedihkannya Kaira saat ini—pasti sedang meringkuk di balik selimut dengan hati yang hancur karena menunggu suaminya semalaman yang

