Azlan berdiri mematung di koridor yang sunyi, tangannya mengusap wajah dengan kasar berkali-kali. Pikirannya seperti benang kusut yang sulit diurai. Jika hanya Khalisa yang berbicara, ia mungkin bisa mencari celah untuk tidak percaya. Namun, kesaksian Bi Parni adalah hantaman berat. Wanita paruh baya itu telah bekerja dengannya jauh sebelum ia mengenal Khalisa, bahkan sebelum ia membangun rumah tangga ini. Bi Parni adalah sosok yang jujur, disiplin, dan hampir tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apa pun dalam pekerjaannya. Di ruang tengah tadi, Khalisa terus mendesaknya dengan suara isak tangis yang memilukan, menuntut agar ia segera menjatuhkan talak pada Kaira. “Dia ingin mencelakaiku, Mas! Dia ingin aku mati!” kalimat itu terus terngiang, memicu kemarahan sekaligus keraguan. Azlan

