Sejak kembali ke asrama kedua putranya, Melisa terus teringat dengan sosok Sean yang memiliki wajah begitu mirip dengan Leebin. Di asrama tersebut, Melisa menggunakan sebuah kamar untuk beristirahat selama tinggal di sana. “Nyonya, ini berkas yang Anda minta.” Keyn mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamarnya. Pria itu meletakkan berkas tersebut di sebelah Melisa. Melisa duduk bersandar di sebuah sofa sambil memeluk kedua lututnya. Pandangan matanya terus tertuju ke arah kaca jendela kamar yang kini terbuka. “Nyonya?” Tegur Keyn lagi. “Iya?” Melisa baru menoleh, menyadari keberadaan Keyn di sana wanita itu spontan mengusap kedua pipinya. Baru sadar pipi itu sudah basah dengan air mata, entah sejak kapan dia melelehkan air matanya sambil melamun. “Ini berkas yang Anda minta.” “Iya taruh

