Keesokan harinya.. “Mel, aku berangkat dulu.” Pamitnya pada Melisa. “Hem, hati-hati di jalan. Kamu yakin tidak butuh bantuan dariku untuk menghadapi Liana?” Tanya istrinya dengan wajah cemas seraya merangkul tengkuk Leebin, beberapa kali mereka berdua berciuman dan saling memagut bibir satu sama lain. Melisa merasa enggan melepas kepergiannya. Entah kenapa situasi kali ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Melisa merasa Leebin sedang menghadapi masalah berat di perusahaan. “Tidak ada, hanya saja..aku ingin kamu dan anak kita baik-baik saja. Itu sudah sangat luar biasa bagiku, Melisa..” Bisiknya seraya menempelkan keningnya pada kening Melisa. “Hem, aku akan menjaganya untukmu, Leebin. Jangan cemas lagi.” “Aku sangat mencintaimu, Mel..” “Aku juga sangat mencintaimu, Leebin..” L

