bc

Tergoda Pesona Hot Daddy Anak Susuku

book_age18+
572
IKUTI
1.8K
BACA
BE
family
HE
age gap
fated
second chance
friends to lovers
arrogant
heir/heiress
blue collar
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
single daddy
campus
city
office/work place
childhood crush
assistant
like
intro-logo
Uraian

[21+. Slow-Burn Tension. Banyak terdapat tensi panas. Harap bijak dalam memilih bacaan!]

.

Bagi Aruntala Keiya Edelweis, hidupnya sudah sangat hancur dan berantakan sejak kehilangan bayi dan diceraikan oleh suami yang tidak pernah mencintainya. Sampai, ia bertemu dengan Dewangga Argaven Langston, pria tampan berdarah perpaduan Eropa dan Yunani, dengan campuran Asia yang berkuasa serta memiliki segalanya.

.

Ia terjebak dalam kontrak gila senilai 20 miliar sebagai ibu s**u pribadi dengan syarat harus tinggal di satu atap yang sama. Namun, tinggal satu atap dengan pria semisterius Dewangga adalah kesalahan besar. Di balik sosok setampan dewa yunani dan aura dominannya, Dewangga menyimpan obsesi gelap yang perlahan menjerat Aruntala dalam permainan api yang tak seharusnya dimulai.

.

Namun, ketika akhirnya Ibu kandung putranya kembali, mampukah Dewangga tetap mempertahankan Aruntala di sisinya, ataukah ia akan memberikan Savita Herra—isterinya— kesempatan sekali lagi untuk menebus kesalahannya dan melepaskan Aruntala begitu saja?

.​

“Kau hadir memang untuk anakku, tapi kau jelas ditakdirkan untuk jadi wanitaku.” — Dewangga Argaven Langston.

.

----------------

All Right Reserved

Copyright 2026 by

Velvoura_nee

.

[Dilarang keras menyalin sedikit, sebagian, bahkan seluruh isi cerita tanpa seizin penulis!]

chap-preview
Pratinjau gratis
01. PROLOG
Suasana kediaman Langston sudah sangat sepi saat jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aruntala terbangun karena merasa tenggorokannya sangat kering. Ia tidak ingin memanggil pelayan hanya untuk segelas air, jadi ia memutuskan keluar menuju pantry kecil yang ada di lorong lantai atas, tidak jauh dari pintu kamarnya. Aruntala berjalan dengan langkah pelan, masih mengenakan piyama satin panjangnya yang tertutup namun membentuk lekuk tubuhnya dengan pas. Saat ia membelok di koridor menuju pantry, langkahnya mendadak terkunci di lantai. Deg. Di depan dispenser yang berpendar biru, berdiri sosok pria yang membuat napas Aruntala seolah ditarik paksa dari paru-parunya. Dewangga. Pria itu berdiri memunggunginya, sedang menuangkan air ke dalam gelas kristal. Dia hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggulnya dengan posisi rendah, sangat rendah hingga memperlihatkan lekukan otot punggung bawah yang sangat atletis. Jangan di tanya, itu adalah pemandangan pertama yang Aruntala lihat seumur hidupnya secara nyata di depan matanya. Apakah ia terpesona, sebagai wanita normal, jawabannya adalah iya, ia akui itu. Aruntala bisa melihat dengan jelas kulit Dewangga yang masih lembap, dengan sisa-sisa tetesan air yang mengalir turun melewati lekukan otot punggungnya yang kokoh. Aruntala terpaku. Ia tidak bisa memalingkan wajahnya. Pemandangan topless Dewangga dari belakang saja sudah cukup untuk membuat wajahnya terasa terbakar, apalagi jika—tiba-tiba, Dewangga berbalik. Mimpi buruk! Namun, saat mata birunya bertatapan dengan Aruntala, pria itu sama sekali tidak terkejut. Tidak juga mencoba menutupi tubuhnya. Dengan santai, ia menyesap air minumnya sambil menatap Aruntala yang berdiri kaku layaknya patung marmer. Dalam jarak sedekat ini, Aruntala bisa melihat dengan jelas d**a bidang Dewangga yang berotot, dihiasi tetesan air yang jatuh dari rambutnya yang basah dan berantakan. Mempesona, sempurna, dan menggiurkan. Pikiran liarnya mulai merajalela. Bagaimana rasanya menyentuh otot-otot kokoh itu? “Haus?” tanya Dewangga, berhasil mengembalikan realita di kepala Aruntala. Suaranya rendah dan serak, khas orang yang baru bangun atau baru selesai mandi. Aruntala menelan ludah dengan susah payah. Ia mencoba menjaga matanya agar tetap tertuju pada wajah Dewangga, meski nalurinya terus-menerus ingin melirik ke bawah. “I—iya, Tuan. Maaf, saya tidak tahu kalau Anda...” “Ini rumahku, Aru,” potong Dewangga tenang. Ia melangkah mendekat, aroma sabun maskulin yang segar dan uap hangat dari tubuhnya menyapu indra penciuman Aruntala. “Aku bebas berjalan di koridorku sendiri dengan pakaian apa pun yang aku suka.” Dewangga berhenti tepat di depan Aruntala, memaksanya untuk sedikit mendongak. Sudut bibir pria itu terangkat tipis melihat betapa gugupnya Aruntala, namun ia juga tidak bisa mengabaikan bagaimana piyama tipis wanita itu mengikuti gerak napasnya yang tidak teratur. “Kenapa diam saja?” bisik Dewangga, matanya kini berkilat liar, menelusuri wajah Aruntala yang memerah hebat. “Kau sudah melihat lebih dari ini bersama mantan suamimu, bukan? Kenapa sekarang kau bersikap seolah baru pertama kali melihat pria?” Aruntala merasa harga dirinya sedikit tercubit. Ia menegakkan punggungnya, mencoba bersikap normal meski jantungnya berdetak seperti genderang perang. “Saya ... saya hanya tidak menyangka akan bertemu Anda di sini dengan... keadaan seperti ini, Tuan.” “Lagipula, saya tidak pernah melihat tubuh mantan suami saya dalam keadaan seperti Anda pun lebih dari Anda saat ini,” tambahnya entah disadari atau tidak. “Benarkah?” “Apa? Apa saya baru saja mengatakan sesuatu yang sembarangan, Tuan?” Dewangga tersenyum tipis, informasi itu cukup membuatnya puas. Ia menggeser tubuhnya, memberikan jalan bagi Aruntala menuju dispenser, namun tangannya sengaja menyentuh pinggang Aruntala saat wanita itu melewatinya. Sentuhan kulit hangat Dewangga pada kain satin piyamanya membuat Aruntala tersentak. “Ambillah minummu. Dan segera kembali ke kamar jika tidak ingin menyaksikan yang lebih jauh,” gumam Dewangga di dekat telinganya sebelum pria itu berjalan santai kembali menuju kamarnya, membiarkan Aruntala mematung dengan gelas kosong di tangan dan pikiran yang mulai kacau berantakan. ———————— Pagi itu masih menyisakan sisa embun yang dingin saat Aruntala Keiya Edelweis, wanita berusia 22 tahun itu duduk tenang di kursi belakang taksi yang melaju membelah jalanan kota. Di pangkuannya, sebuah kotak pendingin berisi botol-botol ASI tertata rapi dan siap untuk diantarkan. Sudah satu bulan berlalu sejak tangis bayi mungilnya terhenti selamanya tak lama setelah dilahirkan, Aruntala memutuskan untuk menjadi penyumbang aktif bagi bank ASI rumah sakit. Itu menjadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan setelah kehilangan anaknya. Keheningan di dalam kabin mobil mendadak pecah oleh getaran ponsel di genggamannya. Dengan jemari yang gemetar, Aruntala membuka sebuah pesan singkat dari Rengga, pria yang statusnya baru saja berganti menjadi mantan suami. Kalimat-kalimat di layar itu menghujam jantungnya tanpa ampun. Rengga Satria Mahendra Perceraian kita sudah selesai diproses hari ini. Jadi, mulai hari ini kau sudah bukan isteriku lagi. Bereskan semua barang-barangmu dan pergi dari rumahku secepat mungkin. Aku tidak ingin saat pulang nanti, masih melihatmu di rumahku! Aruntala meremas pinggiran roknya hingga kusut, merasakan sesak yang teramat sangat menghimpit dadanya. Pernikahannya dengan Rengga memang terjadi karena sebuah kesalahan. Sejak awal mereka tidak saling mengenal satu sama lain, namun kecelakaan yang terduga di malam reuni kampus di mana ia menjadi salah satu panitianya, mengubah hidup Aruntala. Ia hamil dan berakhir menikah dengan Rengga. Pria yang menghancurkan masa depannya, yang tidak mencintai dan tidak dicintainya, juga pria yang sama sekali tidak dikenalnya namun selalu memperlakukannya dengan buruk seolah malam itu terjadi atas kesalahannya. Hidup Aruntala sudah sangat buruk dengan semua itu, namun, takdir seolah belum puas melihatnya hanya sampai di sana. Anaknya, yang dikandungnya selama sembilan bulan, meninggal tak lama setelah di lahirkan. Membuat Aruntala dilanda kehancuran hebat. Sebenarnya, lepas dari Rengga adalah sebuah kelegaan yang akhirnya bisa Aruntala rasakan. Namun, yang membuatnya sedih adalah betapa menyedihkannya nasib hidupnya yang selalu dikelilingi oleh ketidakberuntungan, bahkan sejak ia baru saja dilahirkan. Dengan napas yang tertahan, Aruntala menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas kecil, lalu memejamkan mata perlahan. Ia berusaha sekuat tenaga menekan denyut nyeri di kepalanya, namun isak tangis dan air mata yang sedari tadi ia bendung akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pucat. “Nona, apa Nona baik-baik aja?” tanya sopir taksi itu tiba-tiba, memecah kesunyian yang mencekam. Aruntala tersentak, suaranya tercekat di tenggorokan saat ia berhenti terisak sejenak. Melalui pantulan spion depan, ia bisa melihat tatapan sang sopir yang memandangnya dengan gurat iba yang sangat jelas. Aruntala menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu bertanya dengan suara parau yang menyedihkan, “Aku ... kelihatan menyedihkan sekali ya, Pak?” Sopir pria berusia awal empat puluh tahunan itu sempat mengalihkan pandangannya, menginjak pedal rem perlahan karena lampu lalu lintas di depan mereka baru saja berganti warna menjadi merah. Setelah mobil berhenti sempurna, ia menoleh sepenuhnya ke arah Aruntala di kursi belakang. “Baru saja mengalami hal yang buruk?” tebaknya dengan nada suara yang kebapakan. Aruntala menggeleng lemah, mencoba memaksakan sebuah senyum kecut yang justru terlihat menyakitkan. “Hidupku selalu buruk bahkan sejak aku lahir. Aku mungkin tidak ditakdirkan untuk menemukan kebahagiaan dan keberuntungan, Pak. Jadi, aku sudah terbiasa. Hanya mungkin hari ini terlalu lelah makanya menangis.” Pria itu menghela napas panjang, tatapannya melembut seolah sedang menatap putrinya sendiri. “Nona, saya tidak tahu apakah nona pernah mendengar ini atau tidak, tapi, ketika kita terlahir ke dunia, sebelumnya Tuhan sudah lebih dulu bertanya kepada kita bahkan hingga tujuh kali apakah kita yakin ingin dilahirkan,” tuturnya dengan tenang. Aruntala terpaku, mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibir pria asing itu. “Artinya ada sesuatu yang kita lihat dalam garis takdir kita yang membuat kita yakin untuk lahir ke dunia.” Lampu jalan masih berwarna merah, seolah memberikan ruang bagi Aruntala untuk meresapi petuah tersebut. “Sesuatu yang mungkin belum sampai di waktu sekarang, tapi percayalah alasan kenapa kita memutuskan untuk lahir, suatu saat akan terjawab meskipun untuk sampai ke sana kita harus melewati masa-masa yang paling sulit hingga rasanya nyaris menyerah,” lanjut sang sopir lagi. Ia memberikan senyum tulus yang menenangkan sebelum menyambung narasinya. “Nona, saya tidak tahu seberat apa cobaan yang nona hadapi saat ini tapi, percayalah bahwa hari itu akan tiba. Percayalah bahwa setiap luka pasti akan selalu ada obat penawarnya. Bahwa setiap cobaan pasti akan terlewati, dan setiap masa yang buruk, pasti akan berlalu.” Mendengar penuturan itu, Aruntala terdiam seribu bahasa. Kalimat-kalimat itu terasa seperti oase di tengah padang pasir jiwanya yang kering kerontang. Batinnya mulai bertanya-tanya dengan penuh keraguan. Benarkah demikian? Akankah hari itu ada? Akankah ia menemukan seseorang yang menginginkannya, bahkan di saat orang tuanya sendiri pun membuangnya di panti asuhan sejak bayi? Adakah kehidupan yang layak untuknya di masa depan yang tampak begitu gelap ini? Namun, semakin ia mencoba berharap, semakin rasa sakit itu menggigitnya kembali, mengingatkannya pada kenyataan pahit yang baru saja ia terima. Sebelum sempat Aruntala memberikan jawaban lebih lanjut, lampu lalu lintas berganti hijau. Sopir itu kembali fokus ke jalanan, membiarkan kehidupan di luar sana bergerak kembali dalam ritmenya masing-masing. Aruntala menghela napas panjang, menatap jalanan yang mulai sibuk dengan sisa-sisa air mata yang masih menggantung di pelupuk matanya. “Pak, terima kasih, ya. Semoga di masa depan saya bisa menemukan jawaban kenapa saya memutuskan untuk lahir ke dunia, meski tidak ada yang menginginkan kehadiran saya, meskipun itu kedua orang tua saya sendiri.” ❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.3K
bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook