Langkah kaki Aruntala bergema pelan di lorong rumah sakit yang masih tampak lengang pagi itu. Di tangannya, kotak pendingin yang tadi ia peluk di taksi terasa semakin berat, namun semangatnya untuk berbagi kehidupan untuk bayi yang membutuhkan tak sedikit pun luntur.
Ia memacu langkah menuju ruangan penyimpanan stok ASI, tempat yang dalam satu bulan terakhir ini sudah seperti rumah keduanya. Di sana, Suster Anna—seorang perawat paruh baya yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat—sudah bersiap di balik meja administrasinya.
“Pagi, Suster Anna,” sapa Aruntala seraya meletakkan box tersebut dengan hati-hati.
“Pagi, Aru. Wah, kotakmu selalu penuh tepat waktu, ya?” Suster Anna menerima box itu, melakukan pengecekan singkat sambil sesekali melempar tanya tentang kabar dan kesehatan Aruntala.
Percakapan ringan itu menjadi jeda yang menenangkan, sebuah basa-basi yang setidaknya mampu mengalihkan pikiran Aruntala dari bayang-bayang pesan singkat suaminya tadi.
Namun, ketenangan itu mendadak pecah. Dari balik pintu kaca yang memisahkan ruang penyimpanan dengan bangsal bayi, terdengar lengkingan tangis yang begitu menyayat hati. Suaranya nyaring, seolah sedang memberi tahu semua orang bahwa saat ini ia merasa sangat haus dan lapar.
Suster Anna langsung bergerak sigap, berjalan cepat menuju boks bayi yang dimaksud. Ia segera menggendong bayi kecil itu, menimangnya dengan raut cemas seraya memberi instruksi pada rekannya, “Tolong buatkan s**u formulanya sekarang, sepertinya dia sudah sangat haus.”
Aruntala hanya diam mematung, namun matanya tidak lepas dari bayi mungil di dekapan Suster Anna. Bahkan ketika botol berisi s**u formula datang dan disodorkan ke mulutnya, bayi itu justru semakin meronta. Ia memalingkan wajah, menutup rapat bibir mungilnya seolah tahu bahwa apa yang ditawarkan bukanlah nutrisi asli yang ia dambakan. Tangisannya justru semakin menjadi, memenuhi seluruh sudut ruangan dengan frekuensi yang membuat ulu hati Aruntala terasa diremas.
Tanpa sadar, ia beranjak dari kursinya dan melangkah perlahan memasuki ruang bayi, mendekati Suster Anna yang mulai kewalahan.
“Mengapa bayi ini tetap menangis, Sus?” tanyanya dengan suara lirih.
Suster Anna menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kelelahan yang nyata. “Dia memang sering menangis seperti ini, Aru. Sepertinya pencernaannya tidak terlalu cocok dengan s**u formula, tapi dia tidak punya pilihan lain.”
Dahi Aruntala berkerut, rasa penasaran sekaligus iba mulai merayap di dadanya. “Kenapa tidak menghubungi ibunya untuk menyusui?”
Suster Anna terdiam sejenak, menatap bayi di gendongannya dengan sorot mata sedih. “Sejak dilahirkan prematur, ibunya belum terlihat datang untuk melihat bayinya sekali pun.”
Mendengar itu, hati Aruntala mencelos. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya. Bagaimana mungkin di belahan dunia ini ada seorang ibu yang tega membiarkan bayinya menangis tanpa ampun, sementara Aruntala merasa gagal karena tidak berhasil membuat bayi kecilnya tetap hidup. Matanya mulai berkaca-kaca menatap bayi mungil itu. Naluri keibuannya berontak.
“Bagaimana kalau aku yang menyusuinya, Suster Anna? Aku tidak tega melihatnya menangis seperti itu,” tawar Aruntala tanpa ragu.
Suster Anna tersentak. Ia langsung menggelengkan kepala dengan cepat, raut wajahnya berubah menjadi ketakutan. “Jika bayi ini bayi lain, aku mungkin akan membiarkanmu menyusuinya, Aru. Tapi untuk bayi ini, aku tidak bisa. Kita tidak bisa sembarangan bertindak.”
Aruntala terpaku, merasa bingung dengan penolakan yang begitu keras tersebut. “Kenapa seperti itu, Sus? Memangnya ini bayi siapa?”
“Ayahnya adalah orang yang sangat berpengaruh dan berkuasa. Kesalahan sedikit saja, bisa fatal akibatnya bagi rumah sakit ini, juga bagiku,” bisik Suster Anna dengan nada penuh peringatan.
Namun, peringatan itu seolah menguap begitu saja dari telinga Aruntala. Suara tangis bayi itu jauh lebih keras daripada rasa takutnya akan sosok pria berkuasa mana pun termasuk yang baru saja disebutkan oleh Suster Anna. Ia tidak tahan melihat bayi sekecil itu menderita karena rasa haus.
“Sus, aku tidak peduli siapa ayah bayi ini, tapi dia butuh ASI segera. Biarkan aku menyusuinya sekali ini saja. Hanya sekali saja. Boleh, ya?”
“Tapi, Aru—”
“Jam berapa biasanya ayah bayi ini datang, Sus Anna?” potong Aruntala cepat.
“Pukul 08.30 pagi dan di sore hari sekitar pukul lima,” jawab Suster Anna ragu.
Aruntala segera melirik jam tangan peraknya. Pukul delapan pagi tepat. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum penguasa itu datang untuk melakukan kunjungan rutinnya. Ia menatap Suster Anna dengan pandangan memohon yang sangat dalam. “Masih ada waktu, Sus. Aku janji hanya kali ini. Biarkan aku menyusuinya. Aku pastikan aku akan selesai sebelum ayahnya datang. Aku mohon... lihatlah dia, Sus. Dia butuh asupan segera.”
Suster Anna menoleh pada bayi yang kini wajahnya sudah memerah karena terlalu lama menangis. Hati perawat itu akhirnya luluh. Kebenaran dalam ucapan Aruntala mengalahkan rasa takutnya pada aturan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyerahkan bayi mungil itu ke dalam pelukan Aruntala.
“Berjanjilah kau akan cepat. Jika dia sudah kenyang, segeralah meletakkannya kembali pada boks karena jika sampai ketahuan, aku tidak bisa membantu apa-apa, Aru,” ucap Suster Anna dengan suara yang nyaris seperti bisikan.
Aruntala mengangguk mantap, memeluk bayi itu dengan segala kelembutan yang ia miliki. Suster Anna kemudian bergegas keluar untuk kembali ke tugasnya, meninggalkan Aruntala sendirian di ruangan itu. Dengan perlahan, Aruntala duduk di kursi yang telah disediakan, membuka kancing blusnya, dan membiarkan bayi mungil itu menemukan kehidupan yang ia butuhkan.
Seketika, tangis bayi itu berhenti, digantikan dengan suara isapan yang teratur, menciptakan keheningan yang penuh dengan kedamaian di tengah ketegangan yang mengintai di luar pintu.
Isapan bayi itu akhirnya melambat dan berhenti, digantikan dengan embusan napas halus yang teratur. Bayi mungil itu tertidur dengan damai dalam dekapan Aruntala, seolah baru saja menemukan oase di tengah gurun yang gersang.
Sesuai instruksi Suster Anna, Aruntala segera berdiri dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah setiap gesekan kain bisa membangunkan keajaiban kecil di tangannya. Ia meletakkan kembali bayi itu ke dalam boks, menyelimutinya dengan lembut, lalu buru-buru merapikan blusnya.
Aruntala melirik jam peraknya dengan napas yang memburu. Masih tersisa lima menit. Detak jantungnya mulai berirama normal seiring rasa lega yang menjalar di benaknya. Ia merasa akan selamat. Ia merasa bisa keluar dari ruangan ini, melewati lorong rumah sakit, dan menghilang sebelum ayah bayi itu menginjakkan kaki di sini. Dengan gerakan cepat namun senyap, Aruntala memutar tubuh, bersiap untuk melangkah keluar demi menjaga rahasia kecil yang baru saja ia buat.
Namun, langkahnya terhenti seketika. Seluruh saraf di tubuhnya seolah membeku, menarik oksigen dari paru-parunya hingga ia merasa sesak yang luar biasa. Hanya beberapa meter di depannya, di ambang pintu yang terbuka, berdiri seorang pria yang kehadirannya sanggup mengubah atmosfer ruangan menjadi begitu menekan. Sosok itu bertubuh jangkung, dengan bahu lebar yang dibalut setelan jas mewah yang tampak sangat mahal. Tubuhnya tegap dan proporsional, memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan.
Namun, yang paling membuat Aruntala terkesiap adalah wajah pria itu. Dingin, tegas, dengan rahang kokoh yang tampak setampan dewa Yunani, namun sorot matanya yang biru setajam bilah belati.
Pria itu berdiri di sana, didampingi seorang asisten yang tampak waspada di belakangnya. Matanya menyipit, menatap Aruntala dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang menghakimi, sebelum beralih ke boks bayinya yang kini tampak tenang.
“Siapa kau?” suara pria itu menggelegar rendah, memenuhi ruangan dengan vibrasi yang membuat bulu kuduk Aruntala meremang.
Aruntala terpaku, lidahnya mendadak kelu saat pria itu melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka. Wangi parfum maskulin yang elegan namun kuat mulai mengepung indra penciuman Aruntala, membuatnya semakin terintimidasi.
“Apa yang baru saja kau lakukan dengan anakku?” tanya pria itu lagi, kali ini dengan nada yang lebih menekan, seolah setiap kata adalah tuntutan yang harus segera dijawab.
Tatapannya tertuju pada kancing blus Aruntala yang sedikit tidak rapi karena terburu-buru tadi. “Siapa yang memberimu izin untuk menyusuinya?”
❤️🔥❤️🔥❤️🔥