03. Sebuah Ketertarikan

1094 Kata
Pagi hari di kediaman Langston selalu dimulai dengan kesunyian yang mencekam. Dewangga Argaven Langston berdiri di depan cermin besar, merapikan simpul dasinya dengan gerakan mekanis yang presisi. Setelan jas custom-made berwarna gelap membungkus sempurna tubuhnya yang jangkung dan atletis, menonjolkan lekuk otot yang memukau. Di usia tiga puluh lima tahun, Dewangga adalah puncak dari segala hal yang diinginkan pria dan dipuja wanita. Kekuasaan, kekayaan, dan ketampanan yang sering kali disebut-sebut sebagai pahatan Dewa Yunani. Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, ada sebuah kehampaan yang terus menggerogoti. ​Getaran ponsel di atas meja marmer memecah keheningan. Layarnya menyala, menampilkan nama yang seketika membuat suasana hatinya semakin hambar. Dengan helaan napas berat, ia mengangkatnya sembari melangkah menuju mobil hitam yang sudah menunggu di lobi. ​“Ada apa meneleponku pagi-pagi begini, Herra?” tanya Dewangga dingin. Suaranya rendah, tanpa intonasi kasih sayang sedikit pun. Segalanya terasa menguap entah ke mana. Padahal dulu, wanita itu sangat dipujanya. ​“Apa begitu caramu menyapa isterimu, Dewa?” Suara di seberang sana terdengar menuntut, tajam seperti biasanya. ​“Sebentar lagi kau bukan lagi isteriku,” sahut Dewangga datar, pintu mobil ditutup oleh sopir dengan gerakan halus saat ia duduk di kursi belakang. ​“Aku belum menandatangani surat cerai kita jika kau lupa.” ​“Kalau begitu, cepat tanda tangani.” ​“Kau benar-benar ingin bercerai? Apakah secepat itu perasaanmu hilang?” ​Dewangga tersenyum tipis, sebuah seringai pahit yang tak terlihat oleh lawan bicaranya. “Kau yang menginginkannya, Herra. Apa kau lupa?” ​“Dewa, aku sungguh tidak serius mengatakannya. Aku terlalu marah karena kau membuatku hamil. Kita sepakat akan menunda memiliki anak dulu, tapi kau mengingkarinya!” suara Savita Herra mulai meninggi, penuh dengan nada menyalahkan yang sudah sangat akrab di telinga Dewangga. ​“Sampai kapan, Herra? Kita sudah empat tahun menikah dan kau masih belum puas juga? Sekarang kau bahkan memilih untuk pergi, bukan? Apalagi yang harus kupertahankan?” ​“Sudah kubilang aku belum siap! Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang ibu. Lagipula, aku belum bisa meninggalkan karier modelku, Dewa. Kau tahu ini mimpiku!” ​“Dan kau lebih memilih meninggalkan aku beserta anak kita demi mimpi itu?” ​“Aku tidak meninggalkanmu, aku hanya tidak menginginkan anak itu!” ​Kata-kata Herra mengalir seperti belati yang kembali menghujam luka lamanya. Dewangga memejamkan mata sesaat, merasakan denyut nyeri di dadanya. “Kalau begitu, tanda tangan saja surat cerainya, Herra. Kau bisa bebas setelahnya.” ​Setelah mengatakan itu, ia langsung mematikan telepon, menarik napas dalam, berusaha untuk tidak tenggelam pada perasaan yang selalu berhasil menghancurkannya telak. Savita Herra, wanita itu adalah cinta pertamanya, sosok yang ia puja sejak bangku kuliah karena kecantikan dan ambisinya yang mempesona. Dewangga kira, hubungan yang lahir dari saling mencintai akan lebih mudah dan menyenangkan. Memang, begitulah awalnya. Namun, semua itu perlahan mulai berubah ketika mereka membicarakan soal anak. Sebagai model terkenal yang memang sudah menjadi mimpinya sejak kecil, Herra tidak ingin memiliki anak terlebih dahulu. Dan Dewangga, menyetujuinya. Ia kira, Herra hanya butuh waktu satu atau dua tahun, atau paling jauh tiga tahun namun, sampai di tahun keempat, Herra tetap tidak ingin memiliki anak yang akhirnya membuat Dewangga mengambil langkah nekat dengan menjebaknya agar hamil. Siapa sangka, hal itu membuat Herra marah luar biasa bahkan beberapa kali hampir menggugurkan bayinya, namun selalu berhasil digagalkan. Bahkan selama kehamilan, hubungan mereka sangat buruk hingga Dewangga hampir putus asa menghadapi sikap Herra yang tidak menginginkan kehamilan itu. Keduanya hidup hampir seperti orang asing yang tidak lagi memiliki keharmonisan rumah tangga di dalamnya. Dewangga pikir, kemarahan itu akan berangsur surut saat anak mereka lahir namun, hal yang tidak diprediksinya terjadi. Herra benar-benar memutuskan untuk pergi, menandatangani kontrak sebagai model di Amerika Serikat untuk jangka waktu dua tahun lamanya seminggu setelah ia melahirkan dan juga meminta cerai secepatnya pada Dewangga. Dewangga yang sudah berada di titik puncak kesabaran dan kecewa atas sikap Herra, akhirnya mengiyakan keinginan Herra, membuat surat cerai dan mengirimkannya pada Herra. Namun, sampai detik sekarang, Herra tak kunjung menandatangani surat cerai itu. Entah apa yang diinginkannya. ​Lamunannya harus terhenti ketika mobil berhenti tepat di lobi rumah sakit. Bersama Oetman—asisten pribadinya yang selalu sigap—Dewangga melangkah memasuki gedung putih itu dengan aura dominan yang membuat para staf rumah sakit menunduk segan. Langkah kakinya yang berat dan berirama membawanya menuju ruang bayi, tempat satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup berada. ​Namun, langkah Dewangga terhenti tepat di depan jendela kaca besar ruang bayi. Matanya yang biru membeku pada satu titik. Di dalam sana, seorang perempuan yang tampak sangat muda sedang duduk dengan tenang. ​Dewangga melihatnya dengan jelas bagaimana wanita muda itu mengeluarkan asetnya, memperlihatkan kulit putih yang kontras dengan cahaya lampu ruangan, yang kemudian disambut begitu antusias oleh putranya. Oetman yang berada di sampingnya sudah bersiap membuka pintu untuk melakukan konfrontasi, namun lengan kekar Dewangga menahannya dengan cepat. ​“Biarkan,” gumam Dewangga rendah. ​Matanya tak berkedip, terpaku pada sosok mungil dengan wajah cantik khas perpaduan Bulgaria-Asia itu. Ada sesuatu yang aneh yang tiba-tiba mengusik relung hatinya. Bukan hanya kecantikan fisik wanita itu, melainkan cara wanita muda itu mendekap putranya. Interaksi mereka terlihat begitu alami, begitu tenang, dan penuh kehangatan. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sekalipun dari istrinya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Dewangga merasakan sesuatu yang lain selain kemarahan. Sebuah ketertarikan seperti magnet yang tak bisa dijelaskan. Namun, kehangatan yang sempat menyusup ke relung hati Dewangga hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya ia sentak hingga musnah. Ego dan logika dinginnya kembali mengambil alih. Tatapannya yang tadi sempat melembut, kini kembali membeku sedingin es. Wanita di dalam sana tetaplah orang asing. Dan dalam kamus seorang Dewangga Argaven Langston, tidak ada ruang bagi orang asing untuk menyentuh miliknya, apalagi berbagi keintiman paling privat dengan darah dagingnya tanpa izin tertulis darinya. Dengan tanpa menimbulkan suara, ia masuk ke ruangan bayi tersebut, berdiri tak jauh dari posisi wanita asing itu. Saat sosok itu berbalik dan mata keduanya bertemu, Dewangga bisa melihat dengan jelas ekspresi kaget karena baru saja tertangkap basah. ​“Siapa kau?” ​Ia terpaku, lidahnya mendadak kelu saat Dewangga melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka. Dewangga bisa mencium wangi vanila yang manis menguar dari tubuh wanita itu. ​“Apa yang baru saja kau lakukan dengan anakku?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih menekan, seolah setiap kata adalah tuntutan yang harus segera dijawab. Tatapannya tertuju pada kancing blus wanita di hadapannya yang sedikit tidak rapi karena terlalu terburu-buru takut ketahuan. “Siapa yang memberimu izin untuk menyusuinya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN