04. Kemarahan Dewangga

880 Kata
Ketegangan di dalam ruangan bayi itu mencapai puncaknya saat Suster Anna muncul dengan napas terengah. Wajah perawat senior itu pucat pasi melihat Dewangga sudah berdiri tegak seperti algojo di depan Aruntala. Dengan suara bergetar, Suster Anna mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya, namun Dewangga tidak sedikit pun memberikan ruang untuk pembelaan. ​“Apa kau yang memberinya izin, Anna?” tanya Dewangga dengan suara rendah yang berbahaya. Sorot matanya tidak berpaling dari sosok Aruntala yang gemetar. ​“Dewangga—” Suster Anna mencoba memanggil nama pria itu, berharap kedekatan masa lalu mereka bisa melunakkan amarahnya. ​“Aku mempercayakan bayiku padamu karena aku menghormatimu. Tapi bukan berarti kau bisa membiarkan orang asing menyusuinya!” bentak Dewangga, memotong ucapan Suster Anna tanpa ampun. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagai hantaman palu yang berat. ​“Dewangga, dengar.” Suster Anna, yang memang sudah mengenal Dewangga sejak pria itu masih kecil karena pernah menjadi suster di keluarga Langston, mencoba menarik napas dalam untuk menenangkan diri. Ia berusaha membuat pria keras kepala itu mengerti. “Anakmu terus menangis. Dia tidak menginginkan s**u formula semahal apa pun s**u yang kau bawa. Aku tidak tega melihatnya dan ya, benar, aku yang mengizinkan Aruntala untuk menyusui bayimu. Hanya untuk sekali ini saja, sampai kita menemukan ASI yang cocok untuk bayimu.” ​“Kau benar-benar mengizinkan orang asing—” Ucapan Dewangga terhenti seketika saat sebuah suara yang lembut namun bergetar menyela. ​“Aku bukan orang asing.” ​Aruntala akhirnya memberanikan diri bersuara, memecah intimidasi yang mengepungnya. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, “Tuan, sebelumnya aku minta maaf jika aku lancang menyusui bayimu tanpa seizin darimu. Tapi demi Tuhan, aku tidak memiliki maksud lain selain karena tidak tega melihatnya menangis. Aku ... aku hanya teringat pada putraku yang baru saja meninggal.” Suaranya mengecil di akhir kalimat, menyiratkan luka yang masih sangat basah. ​Dewangga mengalihkan tatapan tajamnya sepenuhnya pada Aruntala. Keheningan sesaat itu terasa mencekam sebelum ia mulai melangkah maju. Tanpa peringatan, Dewangga mengulurkan tangan dan menarik pergelangan tangan Aruntala dengan satu sentakan kuat. Tubuh mungil Aruntala terseret hingga merapat pada d**a bidang Dewangga, membuat Aruntala terpaksa mendongak. Di jarak sedekat itu, Aruntala kehilangan napas saat matanya terkunci pada bola mata biru Dewangga yang berkilat tajam. ​“Jadi, siapa kau jika bukan orang asing?” tanya Dewangga dingin, napasnya yang hangat terasa menyapu wajah Aruntala. ​“Aku ... aku pendonor aktif ASI rumah sakit ini,” ucap Aruntala. Meski ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya, ia berusaha tetap meyakinkan pria itu. Entah dari mana keberanian itu datang, ia melanjutkan dengan nada teguh, “Aku sehat, dan ASI-ku pun sangat bagus. Aku bisa menjamin tidak akan terjadi sesuatu pada bayimu, Tuan. Percayalah.” ​“Dan menurutmu kau bisa seenaknya memberikan ASI-mu kepada bayiku?” geram Dewangga, bukannya melembut, ia justru semakin kuat mencengkeram pergelangan tangan Aruntala hingga gadis itu merapat sempurna ke tubuhnya yang tegap. ​Tanpa memedulikan tatapan mata orang-orang di lorong atau seruan Suster Anna, Dewangga melakukan gerakan cepat. Ia menyeret Aruntala keluar dari ruangan tersebut dengan langkah-langkah panjang yang memaksa Aruntala setengah berlari untuk mengimbanginya. Dengan amarah yang masih berkobar, Dewangga membawa Aruntala menuju ruangan manajemen rumah sakit. Ia tidak hanya menginginkan penjelasan; ia menuntut pertanggungjawaban dari siapa pun yang telah menyentuh miliknya tanpa izin. ​“Oetman, pastikan tidak ada satu pun staf yang berani keluar dari lorong ini,” perintahnya rendah, sarat akan ancaman. ​Dengan langkah yang mengintimidasi, Dewangga menyeret Aruntala menuju lantai atas, tempat kantor manajemen rumah sakit berada. Setiap langkah kakinya yang berat di atas lantai marmer seolah menjadi dentuman lonceng kematian bagi ketenangan staf di sana. Pintu ruangan Direktur Utama rumah sakit itu dibuka tanpa ketukan, menimbulkan dentum keras yang membuat sang pemilik ruangan hampir melonjak dari kursinya. ​“Tuan Argaven? Ada apa ini? Kenapa Anda—” ​“Diam dan duduk, Dokter Regan,” potong Dewangga dengan suara yang tenang namun mematikan. Ia melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Aruntala dengan kasar, membuat gadis itu terhuyung di depan meja besar tersebut. “Aku ingin penjelasan. Detik ini juga.” ​Dewangga berdiri tegak dengan kedua tangan bertumpu di atas meja, menunduk ke arah Direktur Rumah Sakit yang kini mulai berkeringat dingin. Aura dominannya seolah menyedot seluruh oksigen di dalam ruangan. “Bagaimana mungkin institusi medis yang keluargaku danai dengan miliaran rupiah setiap tahunnya, bisa membiarkan seorang wanita antah-berantah masuk ke ruang isolasi bayiku dan menyusuinya seolah itu adalah haknya?” ​“Tuan, saya mohon maaf, saya belum menerima laporannya—” ​“Itulah mengapa aku di sini. Cari tahu sekarang!” bentak Dewangga, suaranya menggelegar membuat Aruntala bergidik ngeri di sampingnya. Dewangga kemudian melirik tajam ke arah Aruntala, menunjuknya dengan tatapan hina. “Dia mengaku sebagai pendonor aktif. Periksa rekam medisnya, periksa latar belakangnya. Jika aku menemukan satu saja bercak penyakit atau niat buruk dari wanita ini, aku pastikan rumah sakit ini akan rata dengan tanah sebelum matahari terbenam.” ​Aruntala hanya bisa menunduk dalam, meremas jemarinya yang gemetar. Ia bisa merasakan tatapan mata biru Dewangga yang terus mengulitinya, menuntut sebuah kebenaran yang bahkan belum sempat ia jelaskan sepenuhnya. Di ruangan itu, Aruntala sadar bahwa ia bukan lagi menghadapi seorang pria menakutkan, melainkan seorang penguasa yang siap menghancurkan siapa pun yang berani mengusik otoritasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN