Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat mencekam seperti berada di balik jeruji nusakambangan. Hanya ada suara jemari yang menari cepat di atas keyboard yang terdengar saat Dokter Regan—Direktur Rumah Sakit tersebut—berusaha mencari data Aruntala di sistem pusat secepat mungkin. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya, menyadari bahwa satu kata salah saja bisa mengakhiri kariernya di tangan pria yang berdiri tegak di hadapannya.
“Ini, Tuan Argaven... saya sudah menemukannya,” ucap Dokter Regan dengan suara yang setenang mungkin. Ia memutar layar monitornya agar Dewangga bisa melihat rekam medis dan histori donasi milik gadis di sampingnya.
“Nona Aruntala Keiya Edelweis memang pendonor ASI aktif di rumah sakit kami. Berdasarkan hasil uji laboratorium yang rutin kami lakukan setiap minggu, ASI miliknya sangat sehat, memiliki nutrisi di atas rata-rata, dan sudah membantu banyak bayi prematur di sini untuk pulih lebih cepat.”
Dokter Regan melirik Aruntala sejenak, memberikan tatapan iba sekaligus kagum atas dedikasi gadis muda itu. “Bisa dibilang, Nona Aruntala adalah salah satu pendonor terbaik kami. Tidak ada bercak penyakit atau riwayat kesehatan yang membahayakan, Tuan.”
Mendengar penjelasan panjang lebar itu, Aruntala sedikit mengangkat wajahnya, berharap Dewangga akan melunak setelah mengetahui kebenarannya. Namun, ia salah besar. Tatapan mata biru Dewangga tetap sedingin kutub, tidak ada sedikit pun gurat penyesalan atau rasa lega di wajah tampannya.
“Aku tidak butuh statistik atau pujian tentang kualitas air susunya, Regan,” desis Dewangga rendah, suaranya terdengar jauh lebih berbahaya daripada bentakan. Ia berdiri tegak, merapikan jasnya seolah tidak ingin ada satu pun debu rumah sakit yang menempel di sana.
“Masalahnya bukan pada kualitas, tapi pada otoritas. Bagaimana mungkin rumah sakit berstandar internasional ini membiarkan orang asing—sehat ataupun tidak—memberikan cairan tubuhnya pada putraku tanpa seizin dariku? Apakah prosedur di sini memang serendah itu?” tanya Dewangga dengan nada menghina yang telak.
Dokter Regan tertunduk, tidak berani membantah. “Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Argaven. Kami akan segera mengevaluasi staf yang bertugas.”
Dewangga kemudian melirik tajam ke arah Aruntala, tatapan yang membuat nyali gadis itu menciut seketika. “Aku tidak ingin hal menjijikkan seperti ini terulang kembali. Pastikan dia tidak mendekati ruangan bayiku lagi.”
Dewangga kembali menoleh pada Dokter Regan, memberikan perintah mutlak yang tak bisa diganggu gugat. “Dan kau, cepat temukan ASI yang cocok untuk anakku. Aku bayar kau bukan untuk melihat anakku menangis atau disusui oleh wanita dari antah berantah. Mengerti?”
“Mengerti, Tuan. Segera kami laksanakan.”
Tanpa kata pamit, Dewangga memutar tubuhnya dengan gerakan angkuh, langkah kakinya yang berat meninggalkan ruangan manajemen itu. Aruntala hanya bisa mematung, menatap punggung tegap itu menjauh dengan perasaan campur aduk antara sakit hati dan kemarahan yang tertahan. Baginya, pria itu bukan hanya sombong, tapi benar-benar tidak memiliki hati.
Dewangga melangkah keluar dari lobi rumah sakit dengan langkah lebar yang membelah kerumunan, meninggalkan aroma ketegangan yang masih tertinggal di udara. Udara pagi yang mulai menghangat sama sekali tidak mampu mencairkan raut wajahnya yang sekeras granit. Di belakangnya, Oetman mengikuti dengan langkah sigap, menjaga jarak yang tepat namun tetap waspada terhadap setiap instruksi sang majikan.
Begitu pintu mobil hitam mewah itu tertutup secara otomatis, kesunyian yang mencekam kembali menyelimuti mereka. Dewangga menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah jendela, namun pikirannya tertuju pada wajah ketakutan namun keras kepala milik wanita muda tadi.
“Oetman,” panggil Dewangga tanpa menoleh. Suaranya rendah, hampir menyerupai geraman.
“Iya, Tuan?”
“Cari tahu segalanya tentang wanita itu. Aruntala—siapa tadi nama lengkapnya?”
“Aruntala Keiya Edelweis.”
“Ya, itu. Aruntala Keiya Edelweis,” ucapnya, mengeja nama itu seolah-olah itu adalah kode rahasia yang harus segera dipecahkan.
“Jangan lewatkan satu detail pun. Di mana dia tinggal, siapa orang tuanya, hingga siapa saja pria yang pernah bersamanya.”
Oetman segera mencatat instruksi itu di tablet pintarnya. “Baik, Tuan. Apa Anda mencurigai adanya niat buruk dari Nona tersebut?”
Dewangga terdiam sejenak, rahangnya mengeras. “Dunia ini tidak pernah memberikan kebaikan secara gratis, Oetman. Tidak ada wanita yang tiba-tiba datang dan memberikan asinya pada bayi asing hanya karena 'tidak tega'.” Ia menjeda kalimatnya, kilatan amarah kembali muncul di matanya.
“Aku menduga ini ada kaitannya dengan Herra. Wanita itu mungkin terlalu malas untuk pulang, tapi dia cukup gila untuk menyuruh orang asing menyusui putranya agar dia tidak merasa bersalah. Selidiki apakah ada aliran dana atau kontak antara wanita itu dengan Herra.”
Baginya, kebetulan adalah hal yang mustahil. Baginya, Aruntala hanyalah satu lagi bidak catur yang mungkin dikirim oleh istrinya untuk mempermainkan perasaannya.
“Pastikan laporan itu ada di mejaku sebelum matahari tenggelam,” perintah Dewangga mutlak. “Aku ingin tahu siapa sebenarnya Aruntala Keiya Edelweis dan apa tujuan sebenarnya mendekati putraku.”
“Baik, Tuan.”
Mobil melaju membelah kemacetan Jakarta, membawa Dewangga menjauh dari rumah sakit, namun tidak menjauhkannya dari sepasang mata cokelat yang terus menghantui pikirannya.
❤️🔥❤️🔥❤️🔥