Mata Rumi membelalak. Dia mundur selangkah, menyilangkan tangan di depan d**a secara refleks. "T-tidak mau. Perjanjiannya jelas! Tidak ada sentuhan, tidak ada paksaan. Aku tidak akan…" "Jangan kegeeran, Rumi! Siapa juga yang mau menyentuhmu?" potong Jagad cepat, tapi nadanya rendah, jauh dari bentakan dan hinaan yang seperti biasanya. Jagad menghela napas panjang, sebuah desahan lelah yang sama seperti di mobil tadi. Dia mengacak rambutnya sendiri yang sudah berantakan, frustasi menghadapi Rumi. "Aku cuma mau..." Jagad menggantung kalimatnya. Dia menatap Rumi, mencari kata-kata yang tidak melukai egonya yang setinggi langit, “aku cuma butuh tidur. Tidur yang nyenyak.” “Hubungannya denganku apa?” tanya Rumi, alisnya naik tidak habis pikir. “Gak usah banyak tanya, Rumi. Pokoknya aku in

