Jagad membaringkan Rumi di ranjang. Wanita itu masih merintih lirih kesakitan dalam ketidaksadaran, tangannya mencengkeram perut, kakinya menekuk menahan sakit. Wajahnya yang pucat dibanjiri keringat dingin, membuat gaun mahalnya lengket di kulit. Dikta datang terengah-engah menyerahkan ponsel yang diambil dari kamar Jagad. Dengan jemari gemetaran, Jagad mencari kontak Devarya. Satu-satunya orang yang muncul di ingatannya untuk dimintai tolong karena Devarya seorang dokter. Tuuut... Tuuut... "Angkat, Dev! Buru angkat, sialan!" umpat Jagad pada ponselnya. "Halo...?" Suara serak dan kesal terdengar di seberang sana. "Jagad?!! Kau tahu ini jam berapa, hah?! Kalau ini bukan soal sahammu yang terjun bebas atau kau sedang sekarat, aku tutup!” "Ru-Rumi sakit! Dia pingsan! Keringat dingin, k

