Part 20. Siksan Terindah

1615 Kata

"Euughh..." Rumi bergumam dalam pingsannya, sedikit bergerak membuat jemari Jagad yang masih betah berada di pangkal paha Rumi seolah seperti tersetrum listrik tegangan tinggi. Sengatan itu membuat Jagad tersentak, gugup menarik jarinya dan sadar jemarinya sudah berada di situ terlalu lama. "Astaga, Jagad! Fokus woy, fokus!" rutuknya pada diri sendiri. Jagad tahu dia harusnya memalingkan wajah. Dia tahu harusnya bersikap sopan. Tapi pemandangan di hadapannya terlalu indah untuk dilewatkan. Tubuh Rumi begitu sempurna, dengan lekuk pinggang yang ramping, kulit kuning yang bercahaya di bawah lampu neon dan ‘itunya’... Jagad menelan ludah dengan susah payah, mengusir pikiran nakal yang mampir di otaknya. Mata Jagad menelusuri setiap inci tubuh itu. Dari leher jenjang, turun ke d**a yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN