"Aaah... nikmatnya..." desah Jagad. Baru saja punggung Jagad bersandar nyaman di kursi kayu keras usai membetulkan letak selimut Rumi yang sedikit tersingkap di bagian kaki hingga membuat pikirannya kembali berkelana liar, ponselnya bergetar lagi. Nama "Dr. Devarya Sialan" kembali berkedip di layar. Urat di pelipis Jagad berdenyut, sudah bisa merasakan akan ada hal usil yang dilakukan Devarya. Dia menyambar ponsel itu dengan kasar. "Apa lagi, sih Dev?!" desis Jagad, suaranya penuh emosi jiwa, “kalau kau menelepon cuma untuk mengejekku lagi, aku bersumpah akan membeli rumah sakit tempatmu bekerja dan memecatmu besok pagi tanpa pesangon sepeser pun!” Di seberang sana, Devarya tidak tertawa kali ini. Suaranya terdengar santai namun profesional, meski Jagad tahu itu hanya kedok saja kare

