"Eits, dokter bedah jantung yang terhormat, berhenti di situ," cegat Zefanya sambil tersenyum manis namun memblokir jalan Devarya yang baru saja menapak di anak tangga pertama. Devarya mengerutkan kening, “kenapa? Aku harus memeriksa pasien loh, Zefa." "Pasiennya wanita, sedang tidur di kamar dan kamu laki-laki asing. Tidak sopan, Dev," omel Zefanya layaknya seorang ibu di asrama putri. Dia merebut tas medis dari tangan Devarya dan mengambil alih paperbag belanjaan dari tangan Javier. "Biar aku saja yang masuk. Sesama wanita pasti lebih nyaman. Sekalian aku mau memakaikan 'baju dinas' pesanan bapak itu," Zefanya mengedipkan sebelah matanya jahil ke arah Jagad yang berdiri kaku di belakang. Jagad membelalak, ingin mengomel, tapi Zefanya sudah melenggang naik dengan anggun. "Ck, gagal l

