Nana menikmati udara pagi yang sejuk. Bau embun yang menenangkan pikirannya masih menyeruak di indera penciumannya. Nana belum kembali ke Vilanya untuk sarapan pagi. Padahal Candra sudah mengirim pesan dan menyuruhnya untuk segera kembali ke Vila. Nana masih menikmati sejuknya pagi, hingga ia mengabaikan ponselnya yang begetar di dalam sling bag nya. Nana terus menyusuri jalan setapak di tengah-tengah hamparan hijaunya kebun teh. “Awww ... sakit ...!” pekik Nana. Dia terjatuh karena kakinya terperosot ke lubang kecil. Nana masih mendesis kesakitan. Dia mencoba bangun dan melanjutkan untuk berjalan, namun dia tidak bisa. Kakinya sangat sakit dan tidak bisa digerakkan. “Adakah manusia? Tolong ...!” Nana berteriak, karena tidak ada yang mendengar dirinya merintih kesakitan, dan petani teh

