Suara sepatu hak Lani bergema di koridor lantai eksekutif. Rapat barusan selesai, dan walau presentasi tim marketing berjalan lancar, pikirannya tetap tak sepenuhnya hadir. Rapat barusan berjalan mulus, target tercapai, semua orang puas. Semua orang, kecuali dirinya. Begitu pintu ruangannya tertutup, Lani berdiri sejenak di baliknya. Sunyi. Seperti biasa. Tapi kali ini keheningan itu terasa lebih menusuk. Ia membuka jasnya perlahan, meletakkannya di sandaran kursi, lalu berdiri di depan jendela kaca besar. Langit Jakarta hari itu mendung, seolah menggambarkan awan kelabu di benaknya. Tadi malam masih membekas jelas. “Kau tahu pertandingan Revan di Kanada kemarin?” “Dan kau tahu mereka kalah telak? Permainannya berantakan. Bahkan komentator sampai bilang, ini pertandingan terburuk Reva

