Pelipur lara

1533 Kata

Lani duduk di balik meja kerjanya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk ringan permukaan kayu, sementara pandangannya kosong menatap layar komputer yang sejak tadi tak banyak berubah. Suara detik jam di dinding berdetak lambat, mengisi kekosongan ruangan. Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu. “Masuk,” ucap Lani, tanpa menoleh. Pintu terbuka perlahan. Sakha melangkah masuk, membawa sebuah kotak makan berlogo sederhana. Langkahnya terdengar normal—tidak ada seretan, tidak ada tanda-tanda pincang. Tanpa sadar, mata Lani melirik ke arah kakinya, memperhatikan gerak-gerik Sakha dengan seksama. Ia hanya ingin memastikan. Luka akibat kecelakaan tempo hari... sudah benar-benar sembuh? Sakha seolah menyadari tatapan itu. Dengan gaya santainya, ia malah sedikit menghentakkan kaki ke lantai, membu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN