“Biar saya saja, Bu,” ucapnya sopan. “Saya yang tanggung jawab.” “Repot-repot banget, mbak. Kamu nggak harus begini, lho.” “Enggak apa-apa, Bu.” jawabnya, tetap dengan nada datar, tapi sopan. Bu Rini menepuk tangan Lani ringan. “Sakha tuh memang anaknya suka ngelantur kalau sakit. Jangan ditanggapi semua omongannya, ya.” Lani hanya menunduk sedikit, nyaris seperti mengangguk, tapi tak berkata apa-apa. Bu Rini menatapnya beberapa detik, ada rasa sungkan yang terselip dalam senyuman kecilnya. “Hati-hati ya, panas.” Lani mengangguk pelan, lalu berbalik dengan langkah tenang, membawa nampan hangat itu keluar dari dapur. Dan untuk sesaat, Bu Rini hanya menatap punggung gadis itu, heran pada ketenangan dingin yang justru terasa... melindungi. ******* Lani masuk sambil membawa nampan. A

