Siang itu, ruang kerja Lani sunyi selain suara ketukan jarinya di atas keyboard dan gesekan kertas dokumen yang berserakan di meja. Matanya nyaris tak lepas dari laporan-laporan bulanan yang menumpuk. Tak ada ekspresi lelah. Hanya fokus yang tanpa suara. Sampai dering telepon internal dari meja resepsionis memecah kesenyapan. “Bu, ada tamu. Namanya Sakha. Katanya mau ketemu sebentar.” Lani tak langsung menjawab. Tangannya berhenti di udara, matanya menatap kosong ke arah dokumen di hadapannya. Sakha? Beberapa detik hening, sebelum akhirnya ia menghela napas pelan. “Suruh naik,” ucapnya tenang, tapi suaranya terdengar sedikit pelan. Hampir seperti ragu. Tak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. “Siang, Bu Lani,” sapanya ringan. “Lagi sibuk banget ya? Soalnya saya udah

