Kosong

1528 Kata

Lani berdiri mematung di samping tempat sampah, memandangi kotak bekal yang tergeletak di antara kertas-kertas kusut dan sisa kopi yang tumpah. Tutupnya terbuka sedikit, memperlihatkan sayur yang masih hangat, dan nasi yang masih utuh, belum tersentuh. Tangannya mengepal. Dalam diam, pikirannya melayang. Ia membayangkan Sakha, dengan kaus sederhana dan senyum tengilnya yang selalu datang tanpa aba-aba. Wajah itu, selalu membawa energi yang tak pernah ia mengerti—begitu hidup, seolah dunia ini belum pernah menyakitinya. Lani menutup matanya. Dalam bayangannya, Sakha sedang berdiri di dapur kecil restorannya, membungkus bekal itu dengan tangan sendiri. Ia menyusun makanan dengan rapi, mungkin sambil bersenandung kecil. Lalu dengan polosnya menulis pesan di atas tisu, seperti anak SMA jat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN