Tidak pernah mencintai

1565 Kata

Setibanya di apartemen Revan, Lani sempat menatap pintu depan sejenak sebelum menekan bel. Tak sampai tiga detik, pintu langsung terbuka. Revan berdiri di sana, mengenakan apron dapur warna gelap yang sedikit belepotan saus. Matanya menatap Lani dari atas ke bawah. Bukan dengan tatapan marah, tapi jelas kecewa. “Kamu telat,” katanya pelan, namun cukup menusuk. Lani menarik napas, lalu menunduk sedikit sambil melepas sepatunya. “Maaf. Ada rapat mendadak, aku langsung ke sini begitu selesai.” Revan tidak langsung menjawab. Ia hanya berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam, membiarkan pintu terbuka lebar untuk Lani mengikutinya. Aroma makanan menguar dari dapur. Hangat, menggoda, dan entah kenapa terasa menyedihkan. Lani masuk pelan-pelan, menutup pintu di belakangnya. Ia meletakkan tas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN