"Aku salah"

1556 Kata

Minggu siang. Rumah keluarga Adhitama. Lani duduk di balik meja panjang berlapis kaca, jemarinya bermain pelan di atas permukaan dokumen yang belum sempat dibaca. Kopi di cangkir kecilnya sudah lama dingin. Hening. Lani tenggelam dalam pikirannya sendiri. Entah kenapa bayangan wajah itu kembali muncul—Sakha, dengan tawa kecilnya yang menyebalkan, dan cara bicaranya yang terlalu santai seolah tak ada sekat dunia. Ia teringat malam itu. Festival rakyat di taman kota. Lampu-lampu temaram menggantung di antara pohon-pohon, aroma arang terbakar bercampur dengan suara tawa anak-anak yang mulai pulang. Lani masih ingat langkahnya yang ragu-ragu ketika memutuskan datang. Masih ingat juga ekspresi Sakha saat melihatnya—seolah dunia sedang bercanda, tapi ia bersyukur karenanya. Lani ingat Sakha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN