Begitu motor Sakha berhenti di depan pagar rumah yang sudah akrab di mata Lani, suasana tenang malam langsung menyelimuti. Lampu teras menyala temaram, berpendar hangat di antara barisan pot tanaman yang berjejer rapi. Sakha turun duluan, lalu menoleh ke Lani yang masih duduk di jok belakang. “Ayo, Bos. Rumah sederhana, tapi makanannya bintang lima. Special request buat kamu,” katanya sambil menjulurkan tangan. Lani menatap tangan itu sesaat, lalu turun sendiri. Tapi begitu hampir kehilangan keseimbangan karena jaket yang kebesaran, Sakha langsung sigap nangkep bahunya. “Eh, pelan dong. Kamu belum terbiasa turun dari kendaraan rakyat,” celetuknya sambil terkekeh. Lani diam saja, tapi matanya melirik Sakha sekilas—terkejut karena refleks Sakha yang begitu cepat. Sakha mengamati helm

