BINAL | #5

940 Kata
Selama perjalanan menuju sekolah nonanya, Fajar tak berhenti mencuri pandang ke arah gadis yang duduk di jok belakang mobil yang dikendarainya itu. Entah mengapa dia merasa ingin terus melihat gadis itu. Bulan yang menyadari jika dia tengah ditatap oleh supir pribadinya itu tersenyum kecil. Dia semakin tertarik ingin menggoda pria bertubuh kekar itu. Gadis itu sengaja melebarkan kakinya ketika duduk. Sehingga membuat rok yang dia kenakan terangkat naik menampilkan paha mulusnya. Glup Fajar yang tak sengaja melihat pemandangan indah itu menelan ludahnya susah payah. Nona mudanya itu benar-benar suka menggodanya. "Pak Fajar kenapa liatin Bulan terus?" tanya Bulan dengan nada malu-malu. "Hah? Ngh, tidak, Non." jawab Fajar terbata. Bulan mendengus kecil. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu berbisik pelan di telinga Fajar. "Pak Fajar suka banget ya dapet hukuman dari Bulan?" Lagi-lagi Fajar dibuat gelisah oleh gadis belia itu. Dia mencengkram stir mobilnya saat merasakan Bulan dengan sengaja meniup telinganya pelan. "N-Non.. Jangan seperti ini." cicit Fajar menelan ludahnya kasar. "Umph.. Pak Fajar nggak suka?" tanya Bulan sembari menciumi cuping telinga pria itu. Fajar menggeleng pelan, membuat Bulan menghentikan aksinya. Pria itu bisa bernapas lega saat nona mudanya tak lagi menggodanya. "Nanti turunin agak jauh dari gerbang sekolah ya, Pak." kata Bulan yang telah duduk manis kembali di tempatnya. "Non Bulan butuh sesuatu?" tanya Fajar mengernyit. Sebagai supir, dia harus memastikan jika nona mudanya itu selamat sampai di sekolahnya. "Ada yang mau Bulan lakuin nanti." jawab Bulan tersenyum miring. Fajar tak menanggapi, dia kembali melajukan mobilnya dengan tenang. Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Fajar hampir sampai di sekolah Bulan. Sesuai perintah gadis itu, dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang berjarak hampir 100 meter dari sekolah. "Sini deh, Pak." pinta Bulan melambai. Fajar mengernyit, namun tak urung melepaskan seatbelt-nya dan keluar menuju jok belakang mobil. Dia dibuat bingung saat Bulan menyuruhnya duduk di sampingnya. Senyum misterius terbit di bibir plum Bulan. Gadis itu lalu merangkulkan tangannya di leher kokoh pria berseragam supir itu. "Waktunya ngasih hukuman buat Pak Fajar." smirknya. Gadis itu lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Fajar yang menunduk. Mengecup bibir beraroma tembakau itu dengan singkat. Namun saat dia hendak menjauhkan wajahnya, Fajar dengan tiba-tiba menahan kepalanya sehingga membuat bibir mereka kembali bertemu. Cup cup cup cup cup Tak disangka, Fajar dengan menggebu mencium bibir ranum Bulan yang lebih dulu menggodanya. Dia tak segan menyesap, melumat dan mengulum bibir nona mudanya itu dengan rakus. Emph.. Bulan melenguh dalam bungkaman bibir supir pribadinya itu saat Fajar dengan lihai membelit lidahnya. Lambat laun dia mulai bisa membalas ciuman dari pria itu. Engh.. Plop Fajar memutuskan tautan bibir mereka. Dia menatap gadis di depannya dengan sayu. "Kenapa kamu selalu menggoda saya?" tanya Fajar dengan suara serak. "Karena Bulan tertarik sama Pak Fajar." jawab Bulan setengah berbisik. Fajar bergumam tak jelas, menduselkan wajahnya di garis leher gadis itu. Bibirnya tak ketinggalan menciumi area itu dengan lembut. "Engh.. P-Pakhh.. " lenguh Bulan pelan. "Kamu suka?" Fajar bertanya dengan sorot mata menajam. Bulan mengangguk lirih, semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar pria itu. "Sentuh Bulan, Pak." ujar Bulan dengan nada sungguh-sungguh. Fajar yang mendengar permintaan itu tentu saja tergoda. Tangannya yang semula berada di pinggang ramping Bulan kini telah menjalar naik. Meremas gundukan kenyal milik nona mudanya itu dengan pelan. "Nona suka saya remas ne-nennya?" tanya Fajar dengan suara beratnya. "Emnh.. " angguk Bulan merintih. "Lihat, tangan saya sedang meremas ne-nen Non Bulan." ujar Fajar yang membuat Bulan semakin dilanda gelisah. Bulan dengan jelas bisa melihat tangan supir pribadinya itu tengah meremas kedua bukit kembarnya dengan intens. "Remes yang kenceng, Pak.. ahh.. " pinta Bulan menangkup tangan Fajar yang tak henti meremas bukit kembarnya. Fajar menaikkan tempo remasannya. Pria itu tersenyum penuh arti saat melihat nona mudanya begitu menikmati remasan tangannya. "Lebih nikmat lagi kalau seragamnya dibuka, Non." kata Fajar. "Emnh.. T-Tapi Bulan harus ke sekolah, Pak." balas Bulan menggigit bibir bawahnya gugup. "Jadi Non Bulan mau saya berhenti?" tanya Fajar dengan raut kecewa yang dibuat-buat. Bulan dengan cepat menggeleng. Dia tidak ingin sentuhan ini berakhir. "Kita balik ke rumah aja, Pak." ajak Bulan. Fajar langsung menyetujuinya. Pria itu lalu keluar dan kembali masuk ke jok kemudi. Fajar kemudian menancapkan mobilnya dengan kencang kembali ke rumah sang nona. Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di pelataran rumah megah milik keluarga Atmaja. Bulan turun lebih dulu disusul dengan Fajar yang berjalan di belakangnya. Saat pintu utama dibuka, mereka sudah disambut oleh seorang maid yang sudah stand by di balik pintu. "Apa Non Bulan lupa sesuatu?" tanya maid itu bingung karena nona mudanya yang kembali pulang, padahal baru beberapa menit yang lalu dia pergi. "Bulan nggak enak badan, Bik." jawab Bulan pura-pura lemas. Wajah maid itu terlihat panik. Dia berinisiatif untuk membantu Bulan menuju kamarnya. Namun langsung ditolak oleh gadis itu. "Biar saya saja yang bawa Non Bulan ke atas, Mbak." ujar Fajar. Pria itu lalu menggendong Bulan ala bridal style menuju kamar gadis itu. Selama berjalan, senyum manis tak lepas dari bibir keduanya. Fajar membaringkan tubuh Bulan di atas ranjangnya. Saat dia hendak mendekatkan wajahnya pada gadis itu, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka. "Kamu bisa keluar, Jar. Biar saya yang urus Non Bulan." kata Inah. "Bulan udah nggak papa kok, Bik. Bik Inah balik aja ke dapur." ujar Bulan menolak. "Beneran, Non?" tanya Inah memastikan. Bulan mengangguk meyakinkan, sehingga membuat Inah percaya begitu saja. Wanita paruh baya itu lalu keluar setelah menyuruh Fajar untuk segera keluar dari kamar nonanya. "Bik Inah udah nggak keliatan, Pak?" tanya Bulan bangun dari ranjangnya. Fajar mengangguk dan menutup pintu kamar Bulan. Tak lupa mengunci pintunya dari dalam. Pria itu lalu berbalik, dengan senyum miring yang membuat Bulan gelisah. "Let's get start." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN