BINAL | #4

1062 Kata
Seorang pria dewasa tampak mengendap-endap masuk ke dalam sebuah kamar yang berada di lantai atas rumah megah milik tuannya. Fajar, pria jangkung itu dengan gerakan hati-hati memutar knop pintu kamar nona mudanya agar tidak ada orang lain yang melihat karena hari sudah mulai pagi. Pasti para maid sudah datang ke rumah megah itu. Ceklek Fajar tak lupa mengunci pintu bercat putih itu untuk mengantisipasi seseorang masuk ke dalam kamar Bulan dengan tiba-tiba. Setelah merasa aman, pria itu berjalan pelan menuju tempat Bulan berada. Jantung Fajar berdegup kencang melihat sosok gadis cantik yang terbaring lelap di depannya. Selimut yang dia sampirkan di tubuh gadis itu telah hilang entah kemana. Menampilkan tubuh atas Bulan yang hanya terlapisi bra hitam yang semalam membuatnya frustasi. Glup Dengan ragu-ragu, Fajar mendekat. Mendaratkan tangan kasarnya di pundak polos Bulan untuk membangunkannya. Engh.. Lenguhan pelan yang keluar dari bibir plum itu terdengar manja di telinganya. Membuat sesuatu yang berada di antara selangkangannya berdiri seketika. "N-Non Bulan.. Bangun, Non.. " ujar Fajar mengguncang pundak Bulan agar bangun. Gadis yang tengah dibangunkannya itu akhirnya membuka kedua matanya dengan gerakan pelan. Netra jernihnya yang belum terbuka sempurna, langsung bersitubruk dengan netra kelam milik Fajar. "Pak Fajar.. " gumam Bulan sembari menguap lebar. Gadis itu memaksakan diri untuk bangun. Sehingga membuat wajah mereka kini sejajar. "Udah pagi, Non. Waktunya berangkat sekolah." ujar Fajar dengan raut canggung. Bulan tampak memberenggut. Tak disangka dia langsung melingkarkan lengan mungilnya di leher kokoh supir pribadinya itu. "Kok Pak Fajar masih manggil Bulan kaya gitu, sih?" sebalnya. Fajar tampak meringis, sebelum menjawab pertanyaan dari nona mudanya itu. "Habisnya saya sudah terbiasa manggil Non Bulan seperti itu." jawab pria jangkung itu. Bulan mencebik yang membuat Fajar merasa gemas melihatnya. Gadis itu semakin merapatkan tubuhnya pada pria dewasa itu. Sebelum kemudian... Cup~ Kecupan panjang yang diberikan Bulan pada bibirnya membuat Fajar tak dapat berkutik. Tubuhnya membeku karena baru saja menerima serangan mendadak itu. "Itu hukuman buat Pak Fajar karena nggak nurut sama Bulan." kata Bulan dengan senyum sensual. Glup Fajar menelan ludahnya susah payah. Namun lambat lain dia mulai bisa mengendalikan dirinya. Senyum miring terbit di bibir tebal yang berwarna kecoklatan itu. Efek sering menghisap rokok yang sudah menjadi kebiasaannya. "Kalau hukumannya senikmat itu saya pasti tidak akan menolak." celetuknya. Bulan yang mendengarnya terkekeh manja. Dia semakin suka dengan reaksi Fajar yang blak-blakan. Membuatnya ingin segera melakukan apa yang ingin dia lakukan sejak lama bersama pria dewasa itu. "Ya udah, Bulan mandi dulu ya, Pak." kata Bulan melepaskan rangkulannya. "Baik, No-eh maksudnya Bulan. Saya permisi mau keluar dulu." balas Fajar mengiyakan. "Eits.. Siapa yang nyuruh Pak Fajar keluar." cegah Bulan menarik lengan kekar Fajar. "Terus saya harus bagaimana, Non?" tanya Fajar bingung. Bulan mendengus karena lagi-lagi Fajar masih memanggilnya dengan embel-embel nona. Namun dia tak ingin mempermasalahkannya saat ini. "Pak Fajar di sini aja, tungguin Bulan sampai selesai mandi." jawab Bulan yang membuat Fajar panas dingin. "T-Tapi.. " Sstt... "Nanti Pak Fajar boleh liat Bulan waktu ganti baju." bisik Bulan genit. Glup Fajar tentu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah kejadian tadi malam, pria itu mulai melihat sosok noda mudanya dengan pandangan yang berbeda. Dia jadi ingin melihat lebih jauh apa yang akan dilakukan gadis itu padanya. "B-Baiklah." jawab Fajar tergagap. Bulan tersenyum manis dan berjalan dengan lemah gemulai menuju kamar mandinya. Masuk ke dalamnya, gadis itu berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdetak cepat karena menyadari betapa binalnya dia. "Huft.. Tenang, Bulan. Emang ini kan yang kamu mau.. " gumamnya pada dirinya sendiri. Gadis itu lalu mulai melucuti pakaiannya dan membersihkan diri di bawah pancuran shower yang menyala. Tubuhnya terasa lebih segar setelah merasakan air dingin membasahi tubuh telanjangnya. Ceklek Tak butuh waktu lama, Bulan sudah keluar dari kamar mandinya dengan selembar handuk yang menutupi da-da sampai sebatas pahanya. Fajar yang melihat kehadiran nona mudanya mengalihkan perhatiannya pada gadis cantik itu. Dirinya terpana melihat betapa sek-sinya Bulan saat ini. Senyum malu terlihat jelas di wajah Bulan. Gadis itu dengan gemetar membuka pintu lemarinya. Menarik satu set pakaian dalam dan juga seragam sekolahnya. Gadis itu dengan sengaja membelakangi Fajar. Membuat pria itu hanya bisa melihatnya dari belakang. Pluk Handuk yang tadinya melekat di tubuh ramping itu telah teronggok di lantai. Kini Fajar dengan jelas bisa melihat tubuh belakang nona mudanya yang membuatnya membelalak. "Godaan macam apa ini.. " teriak Fajar dalam hati. Netra gelapnya dapat melihat jelas pan-tat sintal gadis itu yang begitu menggiurkan. Kaki jenjangnya terlihat begitu indah di matanya. Jangan lupakan punggung polosnya yang sepertinya akan nyaman jika dia bersandar di sana. Di sisi lain, Bulan merasa jika Fajar tengah menatapnya dengan intens. Dengan menahan debaran jantungnya dia mulai memakai celana dalamnya hingga membuatnya harus menungging. Fajar spontan mengintip dari bawah untuk melihat jelas bagaimana bentuk kewa-nitaan nona mudanya itu. Namun sepertinya gadis itu belum memperbolehkannya untuk melihatnya. "Pak.. " panggil Bulan pelan. "I-Iya, Non?" tanya Fajar tergagap. "Bisa bantuin masang tali bh Bulan nggak, Pak?" pinta Bulan. Fajar yang sedari tadi tak bergeming dari tempatnya itu akhirnya mendekat. Berdiri tegap di belakang tubuh Bulan yang setengah telan-jang. Dengan tangan gemetar Fajar membantu Bulan memasang bra coklatnya. Dia lalu mundur beberapa langkah untuk melihat lebih jelas tubuh sintal nona mudanya dari belakang. Bulan lalu berbalik saat dia sudah selesai memakai pakaian dalamnya. Dengan menekan rasa malunya, dia menatap pria di depannya dengan senyum manisnya. "Sekarang giliran Pak Fajar pakein seragamnya." ujarnya. "Hah? S-Saya?" tunjuk Fajar pada dirinya sendiri. Bulan mengangguk cepat dan menyodorkan seragamnya ke arah pria dewasa itu. Fajar mau tak mau menerimanya. Dan mulai membantu gadis itu untuk memakai seragamnya. Tangan Fajar tampak bergetar saat mengancingkan satu demi satu kancing seragam Bulan. Dia akhirnya bisa bernapas lega saat tak ada lagi kancing yang tersisa. "Roknya belum, Pak." kata Bulan mengingatkan. Fajar dengan jantung berdebar berjongkok di depan gadis itu lalu mulai memasukkan kedua kaki Bulan satu persatu ke dalam rok seragamnya. Dia menahan napas saat wajahnya sejajar dengan kewa-nitaan Bulan yang terlapisi celana dalam. Fajar berani bertaruh, milik nona mudanya itu pasti sangat empuk dan kenyal. Di sisi lain, Bulan juga terlihat gelisah karena merasakan terpaan napas hangat Fajar yang mengenai area pribadinya. Tanpa bisa dicegah, kewanitaannya itu mulai terasa lembab. Menghembuskan napas kasar, Fajar mulai mengaitkan kancing rok seragam Bulan dengan jari-jarinya yang gemetar. Dia bernapas lega saat berhasil memasangkan rok yang panjangnya sepuluh centi di atas lutut itu hingga bertengger di pinggang nona mudanya. "Fyuh.. Akhirnya selesai juga." gumam Fajar mengusap pelipisnya yang berair. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN