Fajar terduduk kaku menatap gadis di depannya dengan raut tak terbaca. Netranya beralih menatap tangannya yang digerakkan oleh Bulan untuk meremas dadanya.
Glup
Pria itu menelan ludahnya kasar. Dirinya semakin dirundung gelisah.
"N-Non.. " panggilnya dengan suara parau.
"Engh.. Iya, Pak?" jawab Bulan setengah melenguh.
"Jangan seperti ini, Non. Saya takut Tuan marah jika tau apa yang terjadi sekarang." kata Fajar berusaha tetap sadar.
"Papa nggak akan tau kalau Pak Fajar nggak bilang." timpal gadis itu.
"T-Tapi.. "
Bulan menghembuskan napas kasar. Menghentikan gerakan tangannya sehingga membuat tangan Fajar hilang dari da-danya.
"Bulan ngambek sama Pak Fajar." kesal Bulan dan melemparkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi telungkup.
Fajar menjadi serba salah melihat reaksi nona mudanya itu. Dia menutup laptop yang masih menampilkan adegan dewasa itu dan meletakkannya di atas nakas.
Pria itu berdiri kaku di sisi ranjang sembari melihat punggung nona mudanya yang terlihat bergetar.
"N-Non Bulan nangis?" tanya Fajar terkejut.
Tak ada balasan dari gadis di depannya itu. Membuat Fajar merasa bersalah.
Bulan tetap diam, menyembunyikan wajahnya di dalam bantal. Gadis itu merasa malu karena Fajar terlihat menolaknya. Padahal mati-matian Bulan menahan rasa malunya karena pria itu.
Fajar menghembuskan napasnya pelan, lalu memberanikan diri untuk naik ke atas ranjang mendekati Bulan yang masih senantiasa diam.
"Non.. " panggil Fajar pelan sembari mengguncangkan pundak gadis itu.
Huft..
"Ya sudah, saya akan turutin permintaan Non Bulan." ucap Fajar pada akhirnya.
Bulan yang mendengar itu seketika bangun. Menatap pria di depannya dengan wajah berbunga.
"Beneran, Pak?" tanyanya semangat.
Fajar mengangguk kaku. Memang tidak seharusnya dia menyetujui permintaan Bulan. Namun entah mengapa sulit sekali dia menolaknya.
Bulan bersorak senang dan merapatkan dirinya pada tubuh pria dewasa itu. Dia lalu membawa sebelah tangan Fajar ke da-danya.
"Remes dong Pak ne-nennya Bulan." pinta Bulan dengan nada manja.
Fajar memantapkan hatinya dan mulai mengikuti permintaan dari gadis di depannya itu. Dia mulai menggerakkan tangannya, meremas sebelah bukit kembar Bulan yang masih tertutup bra.
Bulan tampak menikmati remasan tangan Fajar pada dadanya. Dia semakin membusungkan da-danya sebagai reaksi alamiah dari tubuhnya.
"Ahh.. yang kenceng, Pak." pinta Bulan memejamkan matanya.
Fajar menurut dan meremas da-da Bulan dengan lebih kencang. Dia menatap wajah nona mudanya dengan intens.
Tak tahan melihat wajah menggemaskan sekaligus menggairahkan di depannya, Fajar tanpa sadar sudah mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Lalu..
Cup
Mata Bulan yang tadinya terpejam seketika terbuka lebar saat merasakan benda kenyal yang basah terasa mendarat di atas bibirnya. Dia mengerjap, saat jarak di antara keduanya begitu dekat. Bahkan hidung mereka saling bersentuhan.
"Pak Faj-ummphh.. "
Ucapan Bulan terhenti saat Fajar lebih dulu membungkam bibirnya. Melumat bibir atas bawahnya dengan rakus.
Bulan berusaha mendorong tubuh kekar Fajar karena tidak siap dengan ciuman itu. Yang akhirnya membuat pria itu terpaksa menghentikannya.
"Ma-Maaf, Non.. Maafkan saya." kata Fajar dengan wajah pias.
Bulan masih diam, berusaha menormalkan napas sekaligus detak jantungnya yang berdebar keras.
Fajar yang menyadari tak ada balasan dari nonanya semakin dirundung rasa bersalah. Dia hendak beranjak, namun Bulan menghentikan gerakannya dengan duduk di atas pangkuannya.
"Sekali lagi, Pak. Bulan pengen dicium Pak Fajar lagi." ujar Bulan di luar dugaan.
Gadis itu menangkup pipi tirusnya dengan tangan mungilnya. Lalu merendahkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Fajar.
Cup
Bulan lebih dulu mencium Fajar walau dengan gerakan kaku. Dia menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir atas bawah Fajar.
Di sisi lain Fajar menggeram merasakan sentuhan lembut bibir basah Bulan pada bibirnya. Dengan sengaja dia menangkup wajah mungil nona mudanya dan mencium bibir itu dengan menggebu.
Fajar menyesap bibir atas bawah Bulan bergantian dengan gerakan lincah. Lidahnya ikut andil menjilat bibir mungil itu yang terasa manis.
Emph
Bulan melenguh saat merasakan lidah milik supir pribadinya itu menelusup masuk ke dalam mulutnya. Membelai lidahnya dengan gerakan lembut yang membuat dirinya meremang.
Lidah Fajar bergerak intens di dalam mulut Bulan. Mengabsen setiap ruas gigi gadis itu dan berakhir membelitkan lidahnya pada lidah Bulan.
Emph..
Lenguhan kembali terdengar dari bibir Bulan yang tengah dibungkam oleh pria dewasa itu. Tangannya terulur meremas ujung rambut Fajar sebagai pelampiasan dari rasa nikmat yang diberikan oleh pria itu.
Ciuman itu berlangsung cukup lama. Tak mereka hiraukan saliva yang menetes dari dagu keduanya.
Fajar menekan punggung gadis di pangkuannya itu agar semakin merapat pada tubuhnya. Dia bisa merasakan daging kenyal yang menempel di da-da bidangnya. Membuatnya semakin dirundung gejolak di dalam dirinya.
Cengkraman pada pundaknya membuat Fajar menyadari jika Bulan membutuhkan oksigen. Dengan tidak rela dia melepaskan ciumannya dari gadis itu.
Benang saliva tampak terjalin dari bibir keduanya. Fajar menatap sayu ke arah nona mudanya yang sibuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Ibu jari Fajar terulur, mengusap sudut bibir Bulan yang basah karena saliva mereka yang bercampur. Dia menatap bibir bengkak itu dengan tanpa ekspresi. Terlalu speechless dengan apa yang terjadi di antara mereka.
"M-Maaf, Non." lirih Fajar.
Bulan menggeleng, dan memeluk pria itu dengan sengaja. Netranya bersitubruk dengan netra gelap milik Fajar.
"Jangan minta maaf, Pak. Bulan emang maunya Pak Fajar gini, nggak nahan diri." ujar Bulan yang membuat da-da Fajar bergemuruh seketika.
"Pak Fajar mau kan ngelakuin yang kaya di film tadi sama Bulan?"
Deg
Jantung Fajar seketika berhenti sejenak mendengar kalimat itu. Dadanya bergemuruh, dengan gejolak di dalam dirinya yang semakin menggebu.
Cup
"Pak.. " panggil Bulan pelan setelah mendaratkan kecupan kecil pada bibir pria dewasa itu.
Jari lentik Bulan bergerak mengelus wajah Fajar dengan gerakan lembut nan pelan. Gadis itu sengaja menghembuskan napasnya di depan wajah pria itu.
Glup
Fajar menelan ludahnya susah payah. Dirinya sudah terlanjur masuk ke dalam godaan nona mudanya itu.
"Apa yang akan saya terima jika saya menyetujuinya?" tanya Fajar dengan suara serak.
Bulan tersenyum genit, lalu mengarahkan tangan kiri Fajar ke dadanya. Kemudian beralih menelusupkan tangan kanan pria itu di antara selang-kangannya.
"Pak Fajar boleh nikmatin tubuh Bulan sepuasnya." balas Bulan dengan senyum sensual.
Siapa yang tak tergoda dengan tawaran itu. Fajar yang memang sudah sangat terangsang tanpa berlama-lama menyetujui tawaran Bulan.
"Jadi saya boleh nyentuh Non Bulan dimana pun dan kapan pun saya mau?" tanya Fajar memastikan.
Bulan mengangguk, merangkul leher pria itu dengan mesra.
"Sure." jawabnya.
Wajah Fajar terlihat sangat senang.
"Tapi mulai sekarang jangan panggil Bulan pakai embel-embel nona lagi." pinta Bulan.
"Kenapa? Kalau nanti Tuan dengar bisa marah." kata Fajar tak setuju.
"Itu urusan gampang, Pak." jawab Bulan menyeringai.
Akhirnya Fajar mengangguk. Bulan lalu turun dari atas pangkuan pria dewasa itu dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Bulan ngantuk, Pak." adu gadis itu.
Fajar mengangguk dan beranjak dari atas ranjang gadis itu. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh nona mudanya.
"Besok bangunin Bulan ya, Pak." pinta Bulan memejamkan matanya.
"Baik, Non." jawab Fajar.
"Pak Fajar langsung masuk aja. Nanti pintu kamar Bulan nggak usah dikunci." ujar Bulan lagi yang diangguki oleh pria dewasa itu.
***