Mendengus, Dinda menanggapi dengan tegas, “Itu kewajibanku sebagai dosen, meskipun aku bukan dosbing kamu.” “Bukan waktunya saja kamu bertanya tentang kuliahku." “Oh, oke.” Dinda melap-lap bibirnya dengan serbet, lalu lanjut minum air. Dia memaklumi keengganan Dandy membicarakan kelanjutan bimbingan skripsinya, dan ini memang bukan waktu yang tepat, dan mereka yang sedang makan diang di hotel. “Dinda, aku boleh tanya sesuatu,” ujar Dandy tiba-tiba. “Apa itu?” “Kenapa kamu bercerai?” Dinda mendelik, “Bukannya aku sudah cerita?” Dandy menggeleng. “Aku sebelumnya bertanya tentang janda, kamu dan mamaku, ‘kan sama-sama janda tapi dengan penyebab yang berbeda. Dan aku belum tau kenapa kamu sampai bercerai.” “Kenapa kamu ingin tau tentang pribadiku, Dandy?” tanya Dinda dengan senyum tipi

