Bab 49

1433 Kata

Alena berlari di sepanjang jalan sepi, napasnya terengah-engah. Hujan sore baru saja reda, meninggalkan genangan air yang memantulkan lampu jalan. Hatinya bergelora—antara marah, kecewa, dan sedih. Setiap langkah terasa berat karena ingatan yang baru kembali menghantui pikirannya. Ia tahu Rendi telah berubah, tapi luka lama terlalu dalam. Bagaimana mungkin ia percaya lagi setelah semua kebohongan dan pengkhianatan yang terungkap? Ia menepi di sebuah taman yang sepi, menundukkan kepala, membiarkan air hujan yang tersisa menetes di wajahnya. Tangannya gemetar, dan di matanya muncul bayangan Rendi yang dulu dingin dan penuh salah paham. Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. “Kenapa… kenapa semua harus seperti ini?” bisiknya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh suara tetesan air di dedaun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN