Saat pertama kali pandangannya beradu dengan Alice, seseorang yang sudah sekian lama tak pernah dijumpainya, Brielle berlari kecil menghampiri Alice yang sudah bangkit dari posisi duduknya. Lalu berhambur memeluk tubuh sang kakak yang akhirnya ia rindukan setelah mencegah hatinya untuk tidak merindukan seseorang yang telah ia putuskan untuk pergi dari hidupnya. “Alice, kamu apa kabar?” tanya Brielle dalam pelukan Alice yang mendekapnya begitu erat, seakan tak rela untuk melepaskan. “Aku sangat mencemaskan kondisimu, Briel. Aku tidak baik-baik saja sejak kamu pergi dari rumah. Setiap hari aku selalu merindukanmu.” Alice menjawab dengan kedua mata yang sudah digenangi bulir-bulir bening. “Maafin aku, Alice. Aku sungguh-sungguh minta maaf sudah membuatmu mencemaskan kondisiku. Aku juga men

