“Jenie, cucuku, selamat datang.” Adam menyambut Rama dan Jenie dengan pelukan hangat saat keduanya tiba. Padahal Jenie sudah was-was berpikir telah terjadi sesuatu tapi sepertinya kakeknya itu tampak baik-baik saja. “Ada apa menyuruh kami ke sini?” tanya Rama setelah kakeknya melepas pelukan rindu. “Ish. Ucapan macam apa itu? Apa itu pantas kau katakan pada kakekmu?” timpal Adam dengan memberi tepukan sedikit kasar di bahu Rama. Rama mendesis dan mengusap bahunya. Sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kakeknya. “Apa kau juga berpikir terjadi sesuatu pada kakek, Jen?” tanya Adam pada Jenie. Jenie terhenyak dari lamunan singkatnya. “Ah, ya … maaf, Kek,” jawab Jenie dengan ragu. “Haish, dasar cucu-cucu ini. Apa yang ada di pikiran mereka hanya membuat anak? Mereka sam