"Mama...."
Rintihan suara Tiffany yang memanggil mamanya membuat papa Tiffany meninggalkan Kriss dan berjalan menghampiri putrinya.
Peluh yang keluar membasahi wajah putrinya membuat papa Tiffany merasa sangat bersalah. Jika saja dirinya tidak melakukan kekerasan di depan istrinya, mungkin saja istrinya tidak akan melakukan bunuh diri dan membuat putrinya trauma seperti ini.
"Sayang! Bangun nak, papa di sini." Ucap papa Tiffany dengan khawatir. Tangannya bergerak menepuk pelan pipi putrinya yang terasa panas.
Tiba-tiba saja putrinya demam setelah terlihat tidur dengan tidak nyaman. Untuk itu papa Tiffany menyeret Kriss dan memukul laki-laki itu karena sudah lancang membiarkan putrinya tidur di atas kasur lantai yang dingin.
Berbeda dengan papa Tiffany yang khawatir, Heri pun segera membantu Kriss bangun, menanyakan apa keluhan yang dirasakan oleh laki-laki itu saat ini.
Kriss menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak ada yang ia keluhkan. Kriss menatap ke arah ranjang, di mana Tiffany masih saja memanggil mamanya dalam tidurnya.
Tidak seperti biasanya, Kriss tidak pernah melihat Tiffany seperti itu sebelumnya, untuk itu Kriss juga khawatir dan segera datang saat pak tua itu memberitahukan kondisi Tiffany.
"Biar aku yang mengecek kondisinya." Kata Heri sembari menepuk pelan pundak Kriss agar Kriss lebih tenang.
Kriss menoleh ke arah Heri dan menganggukkan kepalanya setuju. Kriss berhenti mendekat, melihat kakak sepupu Tiffany yang tengah memeriksa kondisi Tiffany.
"Sepertinya kita harus membawa Tiffany ke rumah sakit." Kata Heri bersuara.
"Bukankah di sini ada dokter? Apakah dia tidak berguna!" Tanya papa Tiffany kesal.
"Dia sudah tidur, lagipula obat di sini terbatas. Tiffany juga memiliki trauma, jika dibiarkan demamnya akan semakin tinggi dan mungkin saja akan bahaya untuknya." Jawab Heri yang langsung saja membuat papa Tiffany menoleh ke arah Kriss dengan penuh kebencian.
"APALAGI YANG KAMU TUNGGU! CEPAT BAWA KE RUMAH SAKIT!" Teriak papa Tiffany dengan kesal.
"Jangan berani-berani mendekati putriku lagi, jika selangkah saja kamu mendekatinya aku akan benar-benar menghabisimu!" Ucap papa Tiffany memperingatkan Kriss dengan mengangkat tongkatnya dan menunjukkan itu pada Kriss.
"Bantu jaga Anya ya, aku yang akan bawa Tiffany ke rumah sakit." Pinta Heri yang langsung saja dijawabi anggukan oleh Kriss.
Heri mengangkat tubuh Tiffany dan membawanya keluar dari kamar. Papa Tiffany tentu saja mengekor di belakang Heri, khawatir dengan keadaan putrinya.
Heri memasukkan Tiffany ke dalam mobilnya, setelah itu Heri melajukan mobilnya tanpa menunggu papa Tiffany yang masih berjalan jauh.
"Anak sialan itu!" Seru papa Tiffany dengan kesal.
Papa Tiffany berteriak memanggil supirnya, supirnya yang baru saja memejamkan matanya tentu saja segera bangun dan menghampiri atasannya.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat siapkan mobil!"
"I--iya pak." Jawabnya yang langsung saja berlari dan mengambil mobilnya.
Hampir setengah jam Heri mengemudikan mobilnya, akhirnya Heri sampai di rumah sakit, memarkirkan mobilnya dan menggendong Tiffany menuju UGD untuk segera mendapatkan perawatan.
Karena itu salah satu cabang rumah sakit milik orang tua Tiffany, tentu saja itu memudahkan Heri untuk segera mendapatkan pertolongan.
Heri memberitahu identitas Tiffany dan bagian resepsionis pun segera menghubungi dokter-dokter penting untuk datang. Selain itu mereka juga menyiapkan kamar putri yang memang dibangun khusus untuk ditempati Tiffany yang sering dilarikan ke rumah sakit jika musim penghujan tiba.
Heri menunggu di depan ruangan, berharap jika Tiffany bisa segera mendapatkan perawatan dan juga kembali sehat.
Papa Tiffany datang dengan tergopoh-gopoh, merasa kesal dengan Heri dan berniat untuk memukul laki-laki itu dengan tongkat yang dibawanya.
"Berani sekali kamu meninggalkan pamanmu ini." Ucap papa Tiffany yang tentunya diabaikan oleh Heri.
Dokter keluar, dan papa Tiffany pun maju lebih dulu untuk mengetahui kondisi putrinya.
"Untung saja nona segera dibawa ke rumah sakit, jika telat sedikit saja mungkin akan membahayakan otak dan juga sarafnya." Kata dokter yang langsung saja membuat papa Tiffany terdiam saat mendengarnya.
Dirinya hampir saja kehilangan putrinya, putrinya yang semakin pendiam dan jarang menemui.
"Lalu apakah sekarang pasien baik-baik saja?" Tanya Heri dengan pelan.
"Kami sudah memberikan obat dan akan terus memantaunya lebih sering. Untuk sekarang pasien akan tidur karena efek samping pada obat yang kami berikan." Jawab dokter memberitahu.
"Terima kasih dok, tolong bantuannya untuk kedepannya." Ucap Heri berterima kasih.
Dokter laki-laki itupun mengangguk dan membungkukkan badannya sebelum benar-benar pergi.
Heri masuk ke dalam kamar rawat Tiffany, matanya segera tertuju pada Tiffany yang berbaring dengan selang infus yang ada di lengannya. Anak itu paling benci dengan rumah sakit, dan jika dirinya sudah lebih baik, mungkin dia akan berontak untuk pergi besok.
Heri menatap ke sekeliling ruangan itu, ruangan yang didesain sebagaimana kamar seorang putri pada umumnya. Tidak ada yang percaya jika mereka mengatakan itu adalah kamar rumah sakit, karena di dalam kamar itu semua fasilitasnya sangat lengkap. Selain itu, tidak ada bau obat-obatan yang tercium di ruangan itu.
Di luar ruangan, papa Tiffany segera duduk di bawah. Menundukkan kepalanya dalam karena hampir saja membuat putrinya celaka. Istrinya benar-benar sangat kejam karena tidak mengajarkan cara merawat putrinya sebelum pergi.
Papa Tiffany tahu, semua itu salahnya, tapi dirinya tidak berniat untuk mengakui semua itu. Semua salahnya ia limpahkan pada istrinya yang sudah tega meninggalkan dirinya dengan cara yang sangat menyakitkan.
"Pak, anda tidak boleh jongkok terlalu lama."
Suara supir yang mengingatkan membuat papa Tiffany sadar, dirinya segera bangun dan beranjak pergi meninggalkan ruangan putrinya. Papa Tiffany tidak sanggup melihat putrinya yang lagi-lagi hampir merenggang nyawa di rumah sakit miliknya sendiri.
"Anda harus menjaga nona Tiffany meskipun tidak ingin." Kata supir itu mengingatkan.
"Dia tidak membutuhkan keberadaanku." Jawabnya semen menekan tombol lift.
"Anda mungkin akan menyesal jika tidak melihat kondisi putri anda sekarang." Ucap supir itu lagi yang langsung saja membuat papa Tiffany marah saat mendengarnya.
"Apakah kamu baru saja menyumpahi putriku agar segera mati!" Teriak papa Tiffany yang langsung saja membuat supir itu berlutut dan memohon maaf.
Papa Tiffany menurunkan tongkatnya, tidak jadi memukul laki-laki yang sudah mengikutinya bertahun-tahun lamanya itu. Dulu laki-laki itu juga pernah menasehati dirinya untuk membujuk istrinya dengan hati-hati saat istrinya mengurung dirinya di kamar selama beberapa hari. Tapi dirinya memutuskan untuk tidak mendengarkan dan mengabaikannya. Lalu dirinya benar-benar menyesal saat mendapatkan kabar tentang istrinya yang gantung diri di rumah kaca kesayangannya. Rumah kaca yang ia bangun indah hanya untuk istrinya yang menyukai berbagai macam bunga, lebih-lebih bunga lili.
Langkah kakinya berbalik, membawanya ke arah ruangan putrinya dan memutuskan untuk menunggui putrinya hari ini.
Heri yang mendengar suara pintu terbuka tentu saja langsung menoleh, menatap ke arah pamannya yang masuk dengan wajah datarnya.
Sebenarnya jika pamannya itu mencoba untuk merawat dirinya dengan baik, dia tidak akan terlihat setua itu. Dia mengabaikan penampilannya dan hanya fokus pada bisnisnya setelah tantenya meninggal. Tidak hanya itu, alasan pamannya bekerja dengan giat juga karena tidak ingin melihat putrinya kekurangan apapun, tapi dia lupa jika putrinya kurang kasih sayang dan juga perhatian dari sosok orang tuanya.
"Apakah demamnya sudah turun?"
"Tidak setinggi tadi."
Heri menatap ke arah Tiffany yang masih terlihat gelisah.
"Dia sangat benci rumah sakit, jadi anda tidak perlu khawatir. Karena dia akan segera pulih dan kembali ke tempatnya." Kata Heri memberitahu.
"Jika anda tidak ingin melihat Tiffany seperti ini, anda harus mulai mengalah. Biarkan Tiffany berteman dengan orang-orang yang ia pilih. Tidak semua orang kaya akan nyaman dengan temannya yang kaya."
"Lalu aku harus membiarkan dia bergaul dengan orang-orang yang tidak berpendidikan?"
Mendengar hal itu tentu saja Heri langsung tertawa pelan, meledek pamannya yang benar-benar sangat kolot.
"Apakah kamu meledekku?"
"Ya!" Jawab Heri dengan jujur.
"Semua ini adalah kesalahan Anda sendiri."
"Anda membuat istri anda depresi dan melakukan bunuh diri pada akhirnya. Bagaimana bisa anda sekejam itu? Mengatakan pada istri anda sendiri jika anda membunuh orang itu karena laki-laki itu dekat dengan istri anda.
"Apakah anda tidak sadar? Istri anda memiliki sifat yang lemah lembut, berbanding terbalik dengan anda yang sangat keras kepala dan dingin. Mendengar hal itu tentu saja dia langsung menyalahkan dirinya sendiri, dia berpikir karena salahnya lah laki-laki itu mati!"
"Anda yang mendorong istri anda untuk melakukan bunuh diri."
Heri mengatakan semua itu dengan mata yang berkaca-kaca, Heri sudah tidak tahan lagi dengan pamannya yang selalu menutup mata dari kesalahannya sendiri.
"Lalu sekarang anda ingin menekan putri anda? Anda bilang khawatir, anda bilang Tiffany seseorang yang berharga, tapi apakah perilaku anda juga memperlakukannya seperti itu?"
"Tidak! Anda tidak pernah peduli padanya. Saat dia menangis karena datang bulan pertamanya, di mana anda? Anda sibuk mengejar ketenaran yang anda idam-idamkan."
"Kamu pikir aku melakukannya untuk siapa? Semua itu aku lakukan untuk putriku. Aku ingin menjadi orang terkuat di dunia agar tidak ada seorangpun yang berani mengganggu putriku!" Balas papa Tiffany dengan hati yang bergemuruh.
Bagaimana bisa usahanya selama ini disalahkan? Terlebih-lebih yang menyalahkan dirinya adalah keponakannya sendiri. Putra dari adik kandung istrinya yang tewas setelah melahirkan.
Papanya? Dia tidak memilikinya karena saat itu ibunya hamil karena diperkosa oleh orang yang tidak dikenal.
"Apakah anda baru saja bilang semua itu untuk Tiffany?"
Heri tertawa pelan saat mendengarnya, tawanya semakin terdengar keras, terang-terangan mengejek pamannya yang membanggakan dirinya.
"Lalu bagaimana sekarang? Apakah dunia tahu jika Tiffany putri anda? Apakah Tiffany juga menyukai ruangan ini?"
Heri menendang kursi itu dengan kesal, hari ini dirinya benar-benar akan menyadarkan laki-laki tua itu agar tidak selalu menyombongkan dirinya dengan menggunakan Tiffany sebagai alasannya.
"Tidak bukan? Tiffany selalu menolak saat anda ingin mengakuinya di depan umum, dia seseorang yang cerdas, dia dikenal karena usahanya sendiri, nilainya yang baik, perilakunya yang sopan. Selain anak buah anda, apakah anda pikir orang lain akan mengenali Tiffany sebagai putri anda? Tidak! Orang lain tidak akan tahu jika dia adalah putri tunggal dari pengusaha terbaik saat ini."
"Dari semua tempat yang bisa ia tuju, dia memilih laboratorium, dimana tidak banyak orang yang bisa datang dan melihatnya. Dia tidak pernah haus akan ketenaran seperti yang anda katakan, dia hanya butuh suasana yang tenang dan nyaman."
"Dia memilih teman-teman yang tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, dia jarang pergi ke perkumpulan anak-anak sosialita meskipun semua orang mengharapkan kedatangannya, dia tidak pernah menggunakan nama anda untuk melindungi dirinya dari orang lain."
"Jadi apakah anda masih berpikir jika anda peduli dengannya? Itu omong kosong!"
Papa Tiffany yang mendengarnya tentu saja terkejut, ini pertama kalinya ada orang yang memberitahukan kenyataan itu padanya.
Bola matanya bergerak, menatap ke arah putrinya yang terbaring dia atas ranjang yang nyaman itu. Matanya yang panas pun akhirnya mengeluarkan air mata dengan sangat menyakitkan.
Ini pertama kalinya papa Tiffany menangis setelah kepergian istrinya.
"Jika anda ingin menghancurkan hidup putri anda lagi, maka lakukan hal itu sekali lagi. Habisi laki-laki bernama Kriss itu, dan saat itu juga anda akan kehilangan putri anda."
Heri berjalan keluar dari ruangan Tiffany, segera mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya begitu saja. Tidak akan ada orang yang berani menegurnya, dibandingkan dengan itu, Heri benar-benar merasa sesak dan ingin menangis.
Semenjak kecil, Tiffany selalu bersamanya. Dirinya tahu apa saja keluhan yang dimiliki oleh wanita itu, selain itu Heri juga tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Tiffany.
Pernah suatu ketika saat Tiffany bercerita tentang mamanya. Dia bilang mamanya pernah menceritakan tentang papanya. Tantenya itu memberitahu Tiffany jika pamannya sangat menyukai tantenya. Tantenya juga bilang jika dulu dirinya juga tidak menyukai papa Tiffany, tapi lambat laun tantenya pun membuka hatinya dan mencintai pamannya.
Tapi pamannya tidak pernah tahu hal itu, semua itu karena pamannya terlalu abai dan tidak pernah mendengarkan orang lain.
Heri membuang puntung rokoknya dia atas lantai dan menginjaknya dengan kakinya.
Setelah cukup tenang, Heri mengambil ponselnya, mengirimi pesan pada Kriss untuk menanyakan bagaimana kabar calon istrinya.
Heri menyandarkan kepalanya pada dinding, memejamkan matanya sejenak. Memikirkan kebodohannya yang meminta laki-laki lain untuk menjaga calon istrinya. Lebih-lebih calon istrinya menyukai laki-laki itu.
Deringan ponsel yang masuk membuat Heri segera mengambil ponselnya, menatap ke arah nomor tak dikenal yang menghubunginya. Heri menggeser tombol hijau dan menekan tombol loudspeaker untuk mendengarkan.
"Apakah kamu benar-benar akan menikah?"
Suara wanita yang ia kenal membuat Heri segera mematikan sambungan telepon itu dan memblokir nomornya. Heri benar-benar muak dengan wanita itu, dan Heri tidak lagi berbelas kasih pada wanita itu setelah wanita itu berani berbicara tidak sopan di depan calon istrinya.
Panggilan suara yang kembali masuk hampir saja membuat Heri mengumpat, tapi Heri menguntungkan niatnya saat membawa nama My Wife di layar ponselnya.
"Apakah kamu terbangun?"
"Apakah Tiffany baik-baik saja?"
Tanya keduanya bersamaan. Heri yang mendengarnya tentu saja langsung menghelat napasnya pelan.
"Tiffany baik-baik saja, aku membawanya tepat pada waktunya." Jawab Heri memberitahu.
"Bagaimana denganmu? Apakah laki-laki itu tidak menemani kamu?" Tanya Heri menyinggung tentang Kriss pada calon istrinya.
"Dia ada di ruang tengah." Jawab Anya memberitahu.
"Aku terbangun, lalu aku keluar untuk mencari kamu, dan Kriss memberitahu jika kamu ke rumah sakit untuk mengantarkan Tiffany."
"Kriss juga memberitahu jika lukanya itu bukan kamu yang melakukannya."
Heri yang mendengar tentu saja tersenyum tipis, laki-laki itu benar-benar melakukan yang terbaik untuk melindunginya. Yah setidaknya dia tidak membiarkan Anya salah paham dengan dirinya.
Heri melihat jam yang melingkar di lengannya, jam sudah menunjukkan pukul satu malam, dan Anya malah terbangun diwaktu yang seharusnya dia tidur dengan nyenyak.
"Tidurlah lagi, minta Kriss untuk mengelus perut kamu agar kamu bisa tidur nyenyak." Kata Heri pada Anya.
"Dia bukan papanya, kenapa anak ini mau mendengarkan?" Balas Anya dengan cepat.
Heri yang mendengarnya tentu saja langsung tersenyum tipis. Pertama kalinya dirinya tidak kalah dengan Kriss, padahal biasanya calon istrinya itu akan terus berpihak pada laki-laki yang disukainya itu.
"Benar, anak kita cukup pintar dalam beberapa hal." Balas Heri dengan bangga.
"Apakah kamu tidak akan kembali?" Tanya Anya yang langsung saja membuat Heri menoleh ke arah ruangan Tiffany dengan ragu-ragu.
"Haruskah aku kembali?" Tanya Heri pelan.
"Jika keadaan Tiffany mendesak, kamu tidak perlu kembali." Jawab Anya dengan suara pelan.
"Kalau begitu aku akan kembali, tunggu aku ya. Aku akan sampai dalam setengah jam." Putus Heri pada akhirnya.
Anya yang mendengarnya tentu saja langsung tersenyum lebar, hatinya langsung menghangat saat laki-laki itu memintanya untuk menunggu.
"Ya, aku akan menunggu dengan sabar." Jawab Anya yang langsung saja mematikan sambungan telponnya.
Heri berjalan ke arah ruangan dokter Anya yang terus berjaga untuk mengecek kondisi Tiffany setengah jam sekali. Heri mengetuk pintunya pelan dan masuk begitu saja.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter yang langsung saja beranjak bangun dari tidurnya.
"Saya akan pergi, tolong jaga nona dengan baik. Jangan lupa untuk memberikan kabar terbaru terkait Tiffany padaku." Kata Heri meminta tolong.
"Baik! Saya akan terus mengirimkan kondisi nona Tiffany pada anda." Jawab dokter itu yang langsung saja dijawabi anggukkan oleh Heri.
Heri beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dan berjalan ke arah lift. Heri menekan lift agar terbuka, setelah pintu lift terbuka, Heri pun segera masuk ke dalam dan berdiri didalamnya, menunggu lift berjalan turun dan membawanya ke lantai satu.
Heri segera menghampiri mobilnya, masuk ke dalam mobilnya dan melakukannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Pada jam segini, jalanan cukup lenggang hingga membuat perjalanan Heri sangat lancar, dan Heri pun tiba sebelum waktu yang ia janjikan.
Heri masuk ke dalam ruangan calon istrinya dan langsung berjalan ke arah ruang tengah untuk melihat Kriss. Benar saja, laki-laki itu masih di saja dan menyandarkan tubuhnya pada sofa dengan mata yang tertutup.
"Bangunlah!"
Kriss membuka matanya, menatap ke arah kakak sepupu Tiffany yang sudah kembali dan menepuk lengannya kasar.
"Keadaan Tiffany baik-baik saja, mungkin dia akan segera memberontak untuk pulang besok." Kata Heri memberitahu.
Mendengar hal itu tentu saja Kriss langsung berdiri dari duduknya.
"Terima kasih!" Ucap Kriss yang langsung saja berjalan meninggalkan ruangan itu dan pergi keluar.
Heri yang melihatnya tentu saja tidak percaya, bagaimana bisa ada orang seperti itu di sekitar adik sepupunya dan juga calon istrinya?