Heri masuk ke dalam kamar Anya dan menguncinya dari dalam. Karena tidak menemukan keberadaan calon istrinya tentu saja Heri langsung menghampiri kamar mandi dan mengetuknya pelan.
"Apakah kamu di dalam?" Tanya Heri yang langsung saja terdengar suara gemericik air.
Heri lega, calon istrinya tidak kenapa-napa dan ada di dalam kamarnya dengan tenang.
"Apakah kamu sakit perut?" Tanya Heri sembelit bertanya pada Anya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku buang air kecil." Jawab Anya memberitahu.
"Ah syukurlah, ayo kita tidur lagi." Balas Heri yang langsung saja mengangkat tubuh Anya dan menidurkannya di atas ranjang. Heri tersenyum tipis, menyingkap baju tidur yang dipakai oleh wanita itu dan mulai mengelus perutnya dengan gerakan pelan.
"Apakah Tiffany benar-benar baik-baik saja?" Tanya Anya khawatir.
"Dia memang seperti itu setiap musim penghujan tiba, tapi kali ini sedikit lebih parah karena papanya memberikan tekanan perihal kedekatannya dengan Kriss." Jawab Heri memberitahu.
"Dia pasti sangat kepikiran." Gumam Anya dengan suara pelan.
Heri menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, calon istrinya itu benar-benar memiliki hati yang sangat baik, jiwa pertemanannya pun juga sangat baik sampai-sampai dia ikut khawatir pada kondisi Tiffany yang baru beberapa lama ia kenal.
"Apakah kamu senang tadi?" Tanya Heri pelan.
Anya menoleh, menatap ke arah calon suaminya yang terlihat sangat menunggu jawabannya.
"Kenapa aku harus senang?" Tanya Anya pelan.
"Tentu saja karena Kriss menemani kamu." Jawab Heri sembari mencubit hidung calon istrinya itu pelan, merasa gemas dengan calon istrinya yang pura-pura tidak paham dengan pertanyaannya.
Anya tertawa pelan, Anya menggelengkan kepalanya cepat. Hal itu tentu saja membuat Heri kebingungan dan bertanya-tanya, bagaimana bisa istrinya tidak merasa senang?
"Kriss hanya tidur dan memasang wajah dinginnya. setelah dipikir-pikir, dia benar-benar membosankan!" Jawab Tiffany memberitahu.
Heri yang mendengarnya tentu saja langsung tertawa, bisa-bisanya dirinya mendengar hal itu keluar dari bibir wanita itu.
"Kamu lebih baik darinya." Lanjut Anya memberitahu.
"Jangan bercanda!" Seru Heri tak percaya.
Anya memutuskan untuk tidak membalasnya dan memejamkan matanya. Heri yang melihatnya tentu saja gemas, Heri membungkukkan badannya dan mengecup bibir Anya singkat.
Anya membuka matanya dan memanyunkan bibirnya ke depan, meminta calon suaminya itu untuk melakukan lebih.
Heri tentu saja tidak menolaknya, keduanya pun mulai berciuman dengan semangat. Tidak hanya berciuman, Heri juga menggerakkan tangannya naik ke atas dan menyentuh aset atas milik calon istrinya yang sangat ia rindukan.
"Apakah kita boleh melakukan ini?" Tanya Heri pelan.
"Asal hati-hati dan juga tidak sering?" Jawab Anya memberitahu.
"Ah, baiklah. Aku akan bergerak dengan hati-hati nanti." Jawab Heri mengerti.
Heri menggerakkan kepala di depan perut Anya.
"Jangan rewel ya, papa akan mengganggumu sebentar." Ucap Heri yang langsung saja membuat Anya tersenyum lebar saat mendengarnya.
***
"Kriss," panggil Tiffany yang baru saja sadarkan diri dari pengaruh obat tidurnya.
Papa Tiffany yang mendengarnya tentu saja segera menekan bell dan memanggil dokter untuk segera datang.
"Sayang! Apakah kamu merasa tidak nyaman?" Tanya papa Tiffany khawatir.
Tiffany menatap ke arah papanya, setelah itu Tiffany menoleh ke arah sekeliling ruangan yang ia tempati saat ini.
"Di mana Kriss?" Tanya Tiffany yang langsung saja beranjak bangun dari tidurnya.
Tiffany menatap lurus ke arah papanya, menanyakan keberadaan Kriss yang tidak ada di sekitarnya.
"Tadi malam kamu demam, dan sekarang kamu di rumah sakit." Kata papanya memberitahu.
"Apakah Tiffany menanyakan hal itu?" balas Tiffany yang langsung saja mencabut jarum infus di tangannya dan membuang selimutnya asal.
"Kamu masih sakit, tetaplah di sini sampai dokter datang." Kata papa Tiffany yang sebenarnya bingung harus melakukan apa.
"Aku akan memastikan apakah Kriss masih hidup atau mati, papa tunggulah di sini!"
"Nantikan mayat anakmu kembali masuk ke ruangan ini jika sampai papa benar-benar menyingkirkannya."
Baru saja Tiffany turun dari ranjang, dokter dan juga perawat baru saja datang. Terkejut saat melihat Tiffany yang turun dengan sempoyongan.
"Anda tidak boleh bergerak lebih banyak, anda harus istirahat dengan cukup." Ucap dokter yang langsung saja berjalan menghampiri Tiffany dan mencoba untuk membantunya.
"LEPASKAN!" teriak Tiffany yang langsung saja membuat dokter itu menjauhkan tangannya dan menoleh ke arah papa Tiffany yang menganggukkan kepalanya. Meminta dokter itu untuk membiarkan putrinya melakukan apa saja.
"Apakah mereka mengatakan kamu seorang pasien? Teriakanmu bahkan terdengar sampai laboratorium!"
Suara Kriss yang terdengar membuat Tiffany menoleh dan berlari menghampiri laki-laki itu dan memeluknya erat.
"Apakah kamu senang? Bagaimana bisa kamu tidak ada di sini saat aku sakit?" Rajuk Tiffany dengan tangisnya.
"Kamu bahkan tidak terlihat sakit sedikitpun," balas Kriss sembari melepaskan pelukan Tiffany dan mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata wanita itu.
"Jika sakit, menurut dengan dokter. Kamu pikir dengan membuat keributan kamu akan sembuh?" Kata Kriss memberitahu.
"Berbaringlah dengan tenang, minum obatnya dan dengarkan apa yang disampaikan oleh dokter. Aku bukan dokter, jadi aku akan sangat keberatan jika kamu memintaku untuk mengurusmu." Lanjut Kriss memberitahu.
Tiffany yang mendengarnya tentu saja langsung memukul d**a laki-laki itu, disaat dirinya sedang sakit pun laki-laki itu masih mengatakan hal yang jahat padanya.
"Jahat sekali!" Keluh Tiffany dengan suara pelan.
Kriss yang mendengarnya tentu saja tidak mengatakan apa-apa dan menggendong Tiffany ke arah ranjang, menidurkan wanita itu dia atas ranjang.
"Tolong rawat dia dengan baik dok, dan maafkan kata-kata kasarnya tadi. Dia memang suka sekali berteriak." Kata Kriss pada dokter.
Dokter pun mengangguk mengerti. Kriss memundurkan langkahnya, memberikan tempat untuk perawat dan dokter yang segera memberikan perawatan terbaik untuk Tiffany. Sedangkan Tiffany menurut, matanya menatap ke arah Kriss yang juga melihat ke arahnya.
Papa Tiffany yang melihatnya putrinya mau menerima perawatan tentu saja langsung berjalan keluar, merasa sangat lega karena hal itu.
Tadi sebelum putrinya bangun, putrinya terus memanggil nama Kriss berulang-ulang, lalu entah bisikan dari mana, dirinya pun menelpon Heri dan meminta keponakannya itu untuk membawa Kriss datang ke rumah sakit.
Meksipun sedikit terlambat, tapi papa Tiffany tahu, jika putrinya benar-benar sangat bergantung pada laki-laki yang bernama Kriss. Mungkin kata Heri benar, dirinya benar-benar akan kehilangan putrinya jika dirinya melenyapkan Kriss waktu itu.
"Apakah aku menggangu istirahatmu?" Tanya papa Tiffany pada Heri yang ada di luar ruangan Tiffany dan bersandar pada dinding dengan mata yang terpejam.
Heri membuka matanya, menatap ke arah pamannya yang terlihat sekali jika dia baru saja selama menangis.
"Aku baru saja menikmati waktu yang menyenangkan semalam, dan pagi-pagi sekali paman membangunkanku. Tentu saja aku terganggu." Jawab Heri dengan jujur.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya pamannya yang langsung saja membuat Heri menoleh dan tersenyum tipis.
"Anya tidak ingin membuat pesta pernikahan, jadi kita hanya akan mendaftarkan pernikahan kita dan juga melakukan pemotretan pribadi. Kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, jadi paman tidak perlu khawatir jika aku kekurangan dana." Jawab Heri memberitahu.
"Apakah anak itu yang dari panti asuhan yang didanai oleh perusahaanku?" Tanya pamannya yang lagi-lagi membuat Heri menoleh.
"Ya, karena itu dia juga tidak bisa istirahat meskipun sedang mengalami masa-masa tidak enak karena kondisinya yang sedang hamil muda." Jawab Heri memberitahu.
"Aku akan membebaskan tugaskan dia dari perjanjian seumur hidupnya, bawalah dia kemanapun kamu ingin pergi. Hiduplah dengan bahagia!"
Heri yang mendengarnya tentu saja terkejut, apakah pada akhirnya pamannya sadar dengan apa yang ia lakukan selama ini?
"Kamu bisa ambil data perjanjian itu di perusahaan saat punya waktu lenggang, sekarang kembalilah. Tiffany akan baik-baik saja dengan anak kurang ajar itu."
Heri tersenyum tipis, mengikuti langkah pamannya dari belakang. Keduanya berjalan masuk ke dalam lift menunggu.
"Bagaimana bisa dia mengatakan Tiffany merepotkan saat sakit, bukankah dia keterlaluan?" Gerutu pamannya dengan kesal.
"Seharusnya dia bersyukur karena putriku memilihnya, tapi bagaimana bisa dia dengan sombongnya mengatakan hal-hal jahat pada putriku yang manis itu!"
"Itu karena laki-laki itu terbiasa tinggal sendirian, dia mandiri dengan usahanya sendiri." Kata Heri memberitahu.
"Aku sudah mencaritahunya, dia benar-benar hidup seorang diri. Tidak ada satupun yang membuatnya takut, dia tidak memiliki seseorang yang ia anggap istimewa. Jadi bisa dikatakan dia tidak takut apapun karena tidak ada yang rugi juga saat dia menghilang atau tiba-tiba kehilangan nyawanya." Lanjut Heri memberitahu.
"Dan putriku jatuh cinta pada laki-laki seperti itu. Dia menolak menikahi Tiffany dengan alasan tidak memiliki masa depan. Lalu saat aku memintanya untuk menjauhi Tiffany, dia bilang Tiffany yang mendekatinya, bukankah dia meremehkan Tiffany?" Balas papa Tiffany dengan suara pelan.
"Tapi apa yang dikatakan oleh Kriss memang benar, dari awal saat dia datang dia memang tidak pernah merespon orang-orang yang berusaha untuk menegurnya. Sampai pada akhirnya dia mendapatkan pukulan karena terlambat masuk ke laboratorium."
"Selama seminggu Kriss tidak bisa bangun dan juga tidak bekerja. Anya dan Tiffany yang merawat Kriss saat itu. Tapi Kriss tidak pernah meminta bantuan pada keduanya." Lanjut Heri memberitahu.
"Jadi putriku benar-benar mendekatinya?"
Heri menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Keduanya keluar dari lift saat pintu lift terbuka. Para pegawai yang melihatnya tentu saja segera memberikan salam dan tidak satupun orang yang mendapatkan jawaban dari salam yang diberikan.
"Berbeda dengan laki-laki sebelumnya, Kriss benar-benar tidak punya ambisi apapun, dia hanya butuh tempat yang tenang dan berusaha untuk tidak membuat kekacauan juga." Kata Heri memberitahu.
"Apakah kamu yakin? Dia tidak mengincar posisi putriku?" Tanya pamannya masih khawatir.
"Aku yakin, jika dia mengincarnya, dia tidak akan berani melawan dan juga membalas apa yang paman katakan." Jawab Heri dengan yakin.
Selain itu, Kriss juga terlihat tulus menyayangi Tiffany. Dia selalu bersikap dingin saat berhadapan dengan wanita lainnya, dan dia hanya bersikap ramah pada Tiffany saja.
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya pamannya dengan cepat.
"Karena Anya juga menyukai laki-laki itu, berbeda dengan Tiffany, Kriss memperlakukan Anya dengan dingin. Bahkan saat Anya datang untuk menggodanya, Kriss tidak memberikan respon apapun dan membiarkan Anya menahan malunya sampai demam." Jawab Heri memberitahu.
"Lalu kamu akan menikahi wanita yang tidak menaruh hati padamu? Dan menyukai laki-laki lain?" Tanya pamannya marah.
"Dia sudah tidak menyukai Kriss, dia bilang Kriss membosankan dan aku lebih baik." Jawab Heri dengan tersenyum lebar.
Melihat hal itu tentu saja papa Tiffany merasa lega, setelah itu papa Tiffany pun mengambil ponselnya dan menghubungi supirnya.
"Kalau begitu pergilah! Hubungi paman jika ada yang kamu butuhkan!"
"Jangan lupa untuk setting datang dan melihat kondisi Tiffany."
Heri menganggukkan kepalanya cepat dan melambaikan tangannya untuk pergi lebih dulu.
Papa Tiffany menatap ke arah lantai, tongkatnya yang tidak pernah ia gunakan untuk penyangga tubuhnya, tongkat itu hanya ia gunakan untuk memukul bawahannya yang tidak mau mendengarkan dirinya dengan baik. Sepertinya dirinya sudah tidak membutuhkan itu.
Papa Tiffany melemparkan tongkat itu ke tempat sampah, membuat supirnya terkejut dan segera memungutnya.
"Apakah aku memintamu untuk mengambilnya?" Tanyanya saat melihat supirnya itu mengulurkan tongkat itu kembali padanya.
"Bukankah Anda membutuhkannya?" Tanya supirnya kebingungan.
"Aku tidak membutuhkannya lagi, jadi buanglah!" Jawabnya dengan tenang.
"Kalau boleh saya mengambilnya? Tongkat nenek saya sudah rusak." Tanya supir itu yang langsung saja membuat laki-laki tua itu menatap ke arah supirnya kesal.
"Bawa pulanglah, jika masih kurang, ambil semuanya yang ada di rumah." Jawabnya dengan membuka pintu mobilnya sendiri karena kelamaan menunggu supirnya.
Melihat hal itu tentu saja supir itu segera minta maaf dan masuk kembali ke dalam mobil dan bersiap untuk melajukan mobilnya.
"Mampir ke toko bunga langganan, setelah itu kita pergi ke makam nyonya." Kata laki-laki itu memberi perintah.
"Baik pak!" Jawab supir itu dengan semangat.
Selamat perjalanan, papa Tiffany hanya melihat ke luar jendela, menatap ke arah kendaraan yang lalu lalang di sepanjang jalan yang ia lewati. Sebelumnya, dirinya tidak pernah memperhatikan semua itu, yang ia lakukan hanyalah hal-hal yang tidak manusiawi.
"Sudah berapa lama kamu tidak ambil cuti?" Tanyanya pada supirnya.
"Dua tahun pak! Tahun ini putri saya yang bungsu berumur dua tahun. Saya mengambil cuti saat istri saya melahirkan. Menemani istri saya sehari dah juga melihat putri saya." Jawab supirnya itu yang langsung saja membuatnya menatap lurus ke depan. Ke arah supirnya yang ternyata tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan keluarganya karena dirinya.
"Berapa gaji yang kamu terima?" Tanyanya lagi.
"Maaf?" Balas supirnya terkejut dengan pertanyaan itu.
"Aku tanya berapa gaji yang kamu terima." Ulangnya lagi.
"Untuk gaji bulanan lima juta, dan untuk uang lemburannya tidak pasti." Jawab supirnya dengan hati-hati.
"Bagaimana kamu berkomunikasi dengan keluargamu?" Tanyanya lagi, penasaran dengan kehidupan rumah tangga anak buahnya.
"Kami selalu melakukan panggilan video setiap hari, saya menyapa anak-anak saya dan juga istri saya. Setiap saya menelepon, anak saya yang semakin pintar mulai meminta sesuatu pada saya, dan karena itu saya menjadi lebih semangat saat bekerja." Jawab supirnya yang langsung saja membuatnya terdiam.
"Setelah ini, pulanglah!" Ucapnya memberikan perintah.
"Apakah saya membuat kesalahan? Kenapa anda tiba-tiba memecat saya?"
"Aku memberimu cuti sebulan, dan aku akan tetap membayar sebulan yang kamu habiskan dengan keluargamu."
Mobil yang tiba-tiba berhenti membuat dirinya terkejut dan hampir saja jatuh ke depan.
Supirnya keluar dari mobil dan berjalan ke arah samping, membuka pintu mobil bosnya dan berlutut. Mengucapkan terima kasih terus-menerus. Hal itu tentu saja berhasil membuat air matanya luruh begitu saja.
"Jika kamu berterima kasih, cepat bawa mobilnya dengan benar. Aku juga ingin bertemu dengan istriku." Ucapnya memberi perintah.
"Baik, akan saya lakukan!" Jawab supirnya dengan antusias.
Setelah itu, mobil pun kembali melaju dengan kecepatan dia atas rata-rata, agar keduanya segera sampai pada makam nyonya yang sudah lama tidak dikunjungi.