“Boleh pesan apa saja.” ucap Tian, saat Aluna menatap buku menu.
“Tentu, aku butuh banyak asupan makanan, berdebat dengan lelaki b******k sepertimu cukup melelahkan.” balas Aluna, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Tian.
“Pesan saja sesukamu, aku punya cukup banyak uang. Aku tidak akan miskin hanya mentraktirmu makan.”
Tian melipat kedua tangan, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, sambil menatap penuh selidik.
“Benar, kamu terlihat amat sangat kaya!” Aluna menekan kalimat “Kaya” dan menatap dengan tatapan mengejek.
“Aku lapar, mau pesan banyak makanan.”
“Silahkan. Perut sekecil itu paling hanya masuk satu atau dua piring makanan saja.”
Mila memegangi perutnya. “Mungkin, kita lihat saja nanti.”
Pakai yang dikenakan Aluna terlampau pendek, bagian atas hanya tanktop berwarna hitam dengan celana panjang berwarna senada. Celana yang melekat pas di tubuhnya, memperlihatkan pinggangnya yang ramping.
Setiap gerak-gerik wanita itu tidak luput dari pantauan Tian, termasuk saat mengusap perutnya yang terlihat rata. Penampilan mencolok itu jelas menjadi perhatian beberapa pengunjung lainnya, tubuh mulus dan ramping milik Aluna menjadi pusat perhatian untuk beberapa tamu laki-laki.
“Pakai ini!” Tian melempar jas miliknya.
“Jangan sampai tempat ini banjir air liur dari mereka yang tergoda melihat tubuhmu.”
“Termasuk kamu salah satunya?” Aluna terkekeh saja, mengambil jas milik Tian lantas memakainya.
Tian memperhatikan bentuk tubuh Aluna, mencoba mengingat-ingat bagaimana bentuk tubuh wanita itu, tujuh tahun lalu. Sepertinya tidak banyak yang berubah, selain jauh lebih kurus tapi di beberapa titik justru terlihat menonjol, Aluna tidak mengalami banyak perubahan. Senyumnya masih semanis dulu, sayangnya kini wanita itu pelit senyum.
“Kamu sudah punya anak?” tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja mengingat keduanya pernah berhubungan dulu, dan kemungkinan Aluna hamil sangat besar.
“Tidak.” Aluna menggeleng. “Apakah aku terlihat seperti sudah melahirkan.” Dan tanpa ragu, ia berdiri memamerkan perutnya yang rata.
Wanita itu menjadi sangat berani, bukan lagi Aluna yang kerap tersenyum malu saat ditatap Tian.
“Aku memang sering berganti pasangan tapi bukan berarti aku bodoh sampai membiarkan diriku hamil tanpa suami.”
Tian hanya menggumam peka..
“Kamu akan menghabiskannya?” Tian tertegun dengan dua porsi makanan berat yang berhasil dihabiskan Aluna.
“Iya. Aku juga pesan dua dessert. Makanan disini enak.” tanpa ragu, Aluna menikmati makanannya.
“Sering ke tempat ini?”
“Tidak juga, hanya sesekali kalau lagi punya uang lebih. Rasanya nggak berubah, masih sama seperti dulu.” Mulutnya penuh, kedua pipinya menggembung. Kenapa wanita itu masih saja bersikap seperti anak itu, dibalik sikapnya yang menunjukkan sisi dewasa, sisi lain yang tidak disadari Aluna adalah sifat kekanak-kanakannya saat berhadapan dengan makanan lezat.
Hanya di sogok makanan, amarah yang sempat meluap-luap saat dalam perjalanan pun hilang entah kemana. Emosi dan suasana hati Aluna berubah seketika.
“Ada banyak hal yang tidak berubah, meski sudah melewati banyak waktu.” balas Tian.
“Makanan bisa aja nggak berubah, tapi manusia itu tempatnya berubah.”
Tian menatap ke arah Aluna, memperhatikan raut wajahnya tapi sepertinya wanita itu lebih tertarik pada makanannya.
“Lapar atau doyan?” Sindir Tian.
“Kayaknya keduanya sih. Selagi gratis, gass aja sih.”
Diam-diam Tian menatap ke arah Aluna dengan seksama, sampai ujung bibirnya melengkung, membentuk senyum yang begitu lembut.
Perasaan yang begitu familiar, saat menikmati makanan bersama wanita itu.
Dulu, mereka kerap menghabiskan waktu bersama, makan bersama, nonton bersama dan tidur bersama. Semua hal yang dilakukan bersama Aluna memang kerap dianggap biasa oleh Tian, baginya momen itu tidak dianggap spesial sampai suatu hari tiba-tiba Aluna pergi meninggalkannya dan saat itulah Tian merasa begitu kesal.
Ponsel Tian berdering, nama Sienna muncul di layar. Ponsel yang tergeletak di atas meja, membuat Alina bisa melihatnya walau sekilas.
“Hallo,” jawabnya sesaat setelah panggilan terhubung.
“Sayang, kamu dimana? Meetingnya udah selesai?” Suara wanita nyaring terdengar dari seberang sana.
“Aku ada di kantor dan Isya bilang kamu nggak di kantor.”
Tian menutup matanya sejenak, lupa hari ini ada janji makan siang dengan kekasih juga keluarga besarnya.
“Ada urusan sebentar, ini mau pulang.” Alasannya, padahal saat ini Tian masih duduk, berhadapan dengan Aluna yang tengah memperhatikannya
“Oh,, gitu, masih lama? Atau mau aku jemput?” tanya Sienna lagi.
“Nggak lama, hanya sebentar lagi. Nanti kita ketemu dj lokasi saja.”
“Oke. Aku tunggu ya, love you.”
Tian hanya menggumam pelan sebagai jawaban. Tian kembali menaruh ponselmu, setelah panggilan terputus.
“Sudah habis? Mau pesan makanan lain?” Tian menatap piring kosong di hadapan Aluna.
“Sudah. Aku kenyang.” Aluna mengusap perutnya.
“Karena sudah kenyang, aku mau pulang. Makasih ya, untuk traktiran hari ini.” Aluna beranjak dari tempat duduknya, meraih tas kecil yang disimpan di bangku kosong, di sampingnya.
“Mau kemana?” cegah Tian, tidak rela wanita itu pergi. “Aku belum selesai makan,” ia menunjuk ke arah piring miliknya, yang masih terlihat penuh.
“Kamu bisa makan bareng pacar kamu nanti,”
“Pacar?” Satu alis Tian terangkat.
“Iya. Yang baru saja menelpon itu pacarmu bukan?” Aluna melipat kedua tangannya, menatap penuh selidik.
“Sok tau! Cemburu?” Lelaki itu mencibir dan menatap jahil ke arah Aluna.
“Untuk? Apa aku punya alasan untuk cemburu? Tentu tidak Tuan, aku tidak punya itu di hatiku.”
Aluna terkekeh.
“Lalu, kenapa kau bisa berasumsi bahwa yang tadi itu kekasihku?” percakapan tadi Tian tidak menyebut kalimat yang bisa membuat Aluna berasumsi bahwa yang menghubungi adalah kekasihnya.
“Aku memang tidak mengenalmu dengan baik, tapi aku tahu ekspresimu saat berhadapan dengan orang yang kamu anggap penting. Misalnya saja tadi, kamu kelihatan lebih lembut dan tenang.” Aluna tersenyum samar.
Tian membalas, “Sok tau banget!”
“Anggap saja aku sok tau, tapi faktanya memang seperti itu.” Aluna membuka jas yang sebelumnya di pakai.
“Lalu, bagaimana sikapku padamu? Apa kamu juga punya analisanya?”
“Tentu ada.” Aluna menaruh jas tersebut di atas meja. “Kamu menghina, kasar dan memaksa. Apa yang bisa diharapkan? Nggak ada. Itulah yang kamu lakukan padaku.” Sejenak kedua tatapan mereka bertemu.
“Tapi apapun itu, aku nggak peduli. Terimakasih untuk makannya, dan sampai jumpa di lain waktu.” Aluna merapikan sedikit penampilannya.
“Aku akan menganggap traktiran kali ini sebagai ucapan selamat karena aku sudah mendapat pekerjaan baru”
“Pekerjaan baru, apa?”
“Rahasia, kamu nggak perlu tahu dan mungkin saja kita nggak akan pernah bertemu lagi. Aku harap sih memang nggak ketemu lagi.”
Hanya beberapa langkah saja, tiba-tiba Aluna kembali menoleh.
“Sampaikan salamku untuk kekasihmu… semoga dia nggak pernah tahu kekasih tampannya ini pernah melecehkan aku.”
Jika saja Sienna tidak menunggunya, mungkin Tian akan berlari mengejar Aluna.
Tidak apa jika kebersamaan mereka kerap diiringi dengan kata-kata kasar dan penghinaan, tapi Tian sangat ingin bersama wanita itu.
Namun dering ponsel dan pesan singkat dari sang kekasih jela menahan keinginannya. Lagi-lagi Tian membiarkan wanita itu pergi.