Bab 7. Sepakat tidak sepakat

1649 Kata
Asap mengepul dari bibir Aluna, kedua kakinya disilangkan dengan tatapan lurus ke depan, menikmati udara malam yang sejuk. Hujan baru saja reda, bau tanah tercium tajam—menusuk indra, membawa ketenangan sekaligus kegelisahan yang sulit dijelaskan. Lampu teras memantulkan cahaya kekuningan di lantai yang masih basah. Di kejauhan, suara kendaraan terdengar samar, bercampur dengan tetes air yang jatuh dari ujung-ujung daun. Mila duduk di sampingnya, ikut menemani, memeluk jaket tipisnya lebih rapat. “Lo yakin mau pindah kerja?” tanya Mila akhirnya, suaranya rendah, seolah tak sepenuhnya percaya dengan keputusan Aluna. Aluna menghembuskan asap perlahan, membiarkannya menghilang di udara. “Yakin nggak yakin,” jawabnya datar. “Tapi kayaknya gue harus.” Mila menoleh, menatap wajah sahabatnya yang tampak tenang tapi menyimpan banyak pikiran. “Kenapa sih, Lun? Di tempat sekarang posisi lo bagus. Semua orang kenal kemampuan lo.” Aluna tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.“Itu dia masalahnya.” Mila mengernyit. “Masalah gimana?” Aluna mematikan rokoknya di asbak kecil, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Ia menatap langit malam yang masih diselimuti awan tipis. “Gue ngerasa… stuck,” ucapnya pelan. “Setiap hari sama. Rutinitas sama. Target sama. Orang-orang sama. Kayak hidup gue jalan di tempat.” Mila terdiam. Angin malam kembali berhembus, membuat rambut Aluna sedikit tergerai di wajahnya. Ia menyibakkannya sambil menghela napas panjang. “Gue butuh suasana baru, pengalaman baru juga,” lanjut Aluna. Mila menggigit bibirnya. “Tapi pindah kerja itu risiko besar, Lun.” Aluna mengangguk pelan. “Gue tahu.” “Lo bisa aja malah lebih stres di tempat baru.” “Bisa,” sahut Aluna jujur. “Atau gue bisa nemu versi diri gue yang lebih hidup.” Kalimat itu menggantung di udara. Mila menatap Aluna lama. “Lo berubah sejak kapan sih jadi seberani ini?” Aluna tersenyum kecil, “Sejak kembali bertemu lelaki itu.” batin Aluna. Namun ia tidak berani jujur. “Jangan gegabah, Gue cuma takut lo nyesel. Kapan lagi dapat kerja enak, gaji gede tanpa harus jual apem.” Aluna menoleh, menatap Mila dengan mata yang lebih jernih dari sebelumnya. Lalu tertawa. “Kalau gue nggak coba, gue pasti nyesel.” Beberapa detik berlalu dalam diam. Hanya suara malam yang menemani. Mila akhirnya tersenyum kecil. “Ya udah. Kalau itu keputusan lo, gue dukung.” Aluna membalas senyum. “Makasih, besti..” Di malam yang dingin itu, Aluna tidak sepenuhnya yakin dengan masa depan—tapi untuk pertama kalinya, ia berani melangkah ke arahnya. Ragu saat menerima pekerjaan baru, sulit juga meninggalkan pekerjaan lama. Bukan karena Aluna tidak menikmati pekerjaannya sebagai seorang LC, dunia malam yang sudah sangat akrab dengannya selama ini. . “Kenapa mau pindah, Lun? Jakarta sangat strategis pengunjung lebih banyak dengan standar pengusaha kaya raya.” Madam bertanya, usai mengetahui rencana Aluna pindah. “Cari suasana baru, Madam.” “Suasana baru nggak akan jamin penghasilan pun akan baru.” “Bena, tapi disini kamu sudah dikenal. Nggak akan sulit mencari uang,,” Sepertinya Madam keberatan dengan keputusan Aluna pindah kerja. Masih berusaha membujuk tapi Aluna pun masih bersikukuh dengan keinginannya. Bertemu bahkan kembali terlibat dengan Christian adalah mimpi buruknya. Lebih baik menghindar atau lebih baik tidak bertemu lagi. Ponsel Aluna berdering, saat ia tengah menikmati sepotong pizza dan minuman soda. “Temui aku sekarang juga!” Suara berat bernada perintah itu membuat Aluna tersentak dan langsung beranjak dari kursi karena kaget. Aluna mengerjap cemas, lalu melirik jam di pergelangan tangannya dimana waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. “Untuk?” Aluna masih mempertahankan sikap sok jual mahal, padahal jantungnya berdebar hebat setiap kali mendengar suara lelaki itu. “Kamu bisa ambil uangmu,” jawab Tian dari seberang sana. “Untuk apa? Aku nggak butuh uangmu!” Aluna berjalan menjauh mencari lokasi sepi agar pembicaraannya dan Tian tidak didengar oleh mereka. “Temui aku sekarang, atau aku_” Klik! Telepon dimatikan sepihak dan Aluna menggeram kesal. Dengan terpaksa Aluna akan menemui lelaki itu. Tidak menginginkan adanya keributan, lebih memilih untuk menemuinya daripada tiba-tiba Tian datang ke tempat kerjanya dan kembali memicu keributan yang lebih besar lagi. Usai pamit pada Madam, Aluna segera bergegas menuju ke lokasi dimana lelaki itu berada, yakni di apartemen, tempat tinggalnya. Lelaki itu juga mengirim pesan untuk menemuinya di lobi. Di sana Tian sudah menunggunya, sambil bersandar di samping mobil sportnya. Tentu saja pria itu selalu terlihat mempesona, sehingga membuat siapapun yang melihatnya pasti akan berdecak kagum. Itu juga yang dirasakan Aluna dulu, saat pertama kali bertemu Tian dj salah satu acara kampus. Lelaki itu terlihat begitu menawan dalam balutan apapun, termasuk tanpa busana pun masih sama menawannya. Sial! Aluna mengumpat dalam hati, mengapa ia masih saja memikirkan hal seperti itu, disaat lelaki itu menginjak-injak harga dirinya. “Mana uangnya?” Aluna mengulurkan tangannya, begitu sudah tiba di depan Tian. “Karena kamu memaksa, aku rasa nggak ada salahnya menerima uang hasil kerjaku hari itu.” senyum mengejek terlihat jelas di wajahnya. Lelaki itu memberikan senyum setengah yang sinis. “Masuk!” Lelaki itu menatap tengil. “Nggak!” Aluna menolak, jelas ia tidak akan mau berada dalam satu tempat yang sama dengan lelaki itu, apalagi di dalam mobil. Kewaspadaannya menguat. “Nggak mau?” Ekspresi Tian semakin menyebalkan. “Aku nggak mau ikut kamu! Nggak ada kepentingan lain, kecuali ambil uang.” Aluna menegaskan. Tian kembali tersenyum sinis, dengan bertolak pinggang yang terkesan menantang. “Kalau aku jadi kamu, mending masuk ke dalam mobil sekarang. Aku bisa nekat dan bikin kamu nangis di sini, kalau kamu masih keras kepala kayak gitu!” Sial! Ekspresinya begitu dingin dan serius, membuat Aluna kembali terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan. Tidak bisa memilih. Mila menghentakkan kakinya untuk melampiaskan kekesalan, sebelum akhirnya masuk.. Brak!! Pintu ditutup dengan begitu kencang, hingga membuatnya melonjak kaget. Lantas, lelaki itu masuk kedalam mobil dan duduk di bangku kemudi. “Aku bingung, kenapa kamu bersikeras kasih aku uang, apa aku terlihat sangat menyedihkan di matamu? Padahal banyak wanita di luar sana yang pernah kamu tiduri, dan kamu nggak membayarnya. Kamu senang-senang saja, nggak bersikap seolah tersinggung seperti ini hanya karena di kasih enak gratis. Childish banget!” “Siapa? Aku? Yang benar saja! Sebelum ngomong ada baiknya ngaca dulu! Kamu jelas butuh uang sampai jual diri kayak gitu, dan apa salahnya kalau aku mau bayar. Aku kasih lebih!” Lelaki itu jelas tidak mau kalah, ia balas menatap tajam dengan sorot tersinggung. “Butuh uang atau tidak, bukan urusan kamu! Nggak usah sok peduli!” “Perlu diingat, aku nggak pernah peduli sama kamu, jangan kepedean!” “Aku nggak pernah kepedean dan nuduh sembarangan, justru kamu yang selalu ikut campur urusan orang lain dan hina-hina tanpa alasan!” Tian menyeringai, menatap Aluna dengan tatapan mengejek. “Kepedean ya? Kayaknya kamu harus diingatkan kembali, siapa yang ngejar-ngejar aku dulu, sampai rela menyerahkan diri dan keperawanannya.” Tian terkekeh, merasa telah menemukan kelemahan Aluna saat wanita itu diak dengan wajah memerah. “Untung aja aku pandai memanfaatkan situasi, nggak rugi-rugi banget sih, dapat yang pertama.” Aluna menghela lemah, menatap jengah ke arah Tian, haruskah ia melompat dari dalam mobil itu dan melarikan diri? “Jangan cari-cari masalah. Aku benar-benar berharap kita nggak pernah dipertemukan dalam kebetulan apapun lagi,” “Benarkah? Padahal dulunya cinta mati sama aku, malah sampe nggak tahu diri juga.” Aluna bergidik, lalu membuang muka ke arah samping. Kemacetan semakin membuatnya kesal dan membuat laju kendaraan melambat. Hening, keduanya terdiam. Sudah lama tidak bertemu banyak hal yang berubah diantara mereka berdua. Sejak pertemuan pertamanya waktu itu, emosi Aluna menjadi naik turun, tidak karuan. Merutuki dirinya yang pernah menyukai pria sialan itu dan mungkin masih sama mencintai sampai saat ini. Aluna terdiam, masih menatap ke samping mengabaikan Tian yang bergumam tidak jelas mengikuti alunan musik. Ponsel Aluna tiba-tiba berdering, nama seseorang muncul yang membuatnya tersenyum seketika dan langsung menerima panggilan. “Hallo sayang, kenapa? Ada apa?” Rautnya langsung berubah senang. “Sebenar lagi pulang, kenapa? Rindu?” Senyumnya semakin lebar, mengusik perhatian Tian yang semula tidak peduli, terpaksa menoleh. Lelaki itu penasaran, dengan siapa Aluna bicara? ekspresinya terlihat begitu bahagia tidak seperti saat bersamanya, wanita itu kerap menunjukkan ekspresi marah dengan kebencian yang kental. “Sampai jumpa nanti di apartemen ya..” panggilan terputus, lantas Aluna segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. “Siapa? Pacar atau langganan?” Tian mengejek dengan nada melecehkan. “Ada juga yang mau sama cewek murahan, padahal kemarin pacarnya habis enak-enak di kamar ganti. Maklum aja sih namanya juga jual diri.” Aluna memejamkan matanya sambil menahan diri untuk tidak mengeluarkan umpatan kasar. “Terimakasih untuk pujiannya.” Ia membalas dengan senyum lembut yang dipaksa. “Kalau servis nya enak dan memuaskan, pelanggan pada balik repeat order sih..” lanjutnya dengan nada bangga, padahal ia tengah meredam amarahnya sendiri. Entah apa yang diinginkan lelaki sialan itu, sampai terus mengganggunya. Aluna berusaha untuk tidak terpancing emosi, dengan terus menatap ke arah jalan yang masih saja merambat lambat, pelan “Yakin, ada yang mau sama w************n kayak kamu?” “Nggak percaya ya?” Aluna menoleh dengan senyum jahil.. “Atau mau repeat order juga?” Lanjutnya. “Sebenarnya hal seperti itu udah biasa terjadi, nggak usah cupu deh!” balas Aluna yang membuat tatapan Tian menajam “Kayak nggak pernah main sama pacar atau istri orang aja. Jangan cupu deh! Atau jangan-jangan keenakan main sama aku sampe rela mau bayar, pake maksa lagi, padahal mau lagi.” Jawaban Aluna sukses membuat Tian meradang, lelaki nampak tidak terima. Tidak ada cara lain untuk membalas perlakuan b******n itu, selain dengan mengimbangi hinaan atau cibirannya. “Oh gitu?” lelaki itu tentu saja tidak mau kalah, terlihat ia semakin bernafsu membalas ejekan Aluna. “Baiklah kalau itu yang kamu mau. Gimana kalau kamu jadi simpanan aku. Aku bayar mahal, kamu nggak perlu keliling menjajakan diri ke banyak lelaki. Cukup puaskan aku, bayaran mahal. Mudah, kan?” “Apa?!” “Oke. Aku anggap kamu setuju.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN