Nafas memburu, keringat bercucuran namun Tian tidak kunjung mengecilkan laju treadmill, terus berlari dengan menaikkan kecepatan, berlari sekencang mungkin sampai ia kesulitan bernafas.
“Apa?”, ia langsung menoleh ke arah samping, saat treadmill perlahan pelan, pada sosok pelaku yang dengan sengaja menurunkan kecepatan.
“Lo mau mati? Jangan disini” Andi mematikan treadmill Tian, menatap kesal ke arah temannya itu yang terlihat kesetanan saat berolahraga.
Tian mendengus, berjalan ke sudut Gym untuk duduk sambil mengusap keringat dengan handuk kecil yang tergantung di bahunya.
“Kenapa? Ada masalah?” Andi melempar botol berisi minuman dingin.
“Nggak.”
Dua jam melatih fisik, sudah lebih dari cukup membuat tubuhnya lelah, tapi Tian seolah enggan untuk berhenti.
Tian mendesah panjang, lalu kembali bernafas dengan terengah-engah.
“Lo kelihatan kacau, calon pengantin nggak boleh stres, jangan sampai stamina lo habis disini, sementara di malam pengantin justru k'o. Yahh walaupun kalian sebenernya nggak butuh malam pengantin, karena bisa melakukannya kapan aja, nggak harus nunggu nikah dulu” Andi mengambil duduk di samping dan sama-sama terdiam untuk beristirahat.
Keduanya ada di sport club milik Andi.
“Sok tau!” Tian menghela lemah, menatap ke arah lain.
“Dulu, Lo sering menghabiskan waktu sama banyak cewek, tapi setelah keluar dari penjara, kebiasaan Lo berubah. Kalau lo butuh sedikit hiburan, kencan dengan satu atau dua wanita sebelum menikah kayaknya nggak apa-apa. Olahraga nggak harus di tempat gym, kan? Bareng cewek juga bisa.” Andi tersenyum menggoda, tapi ia tidak bermaksud menjerumuskan temannya itu pada pergaulan bebas seperti dulu. Hanya ingin bercanda saja, sementara Tian hanya tersenyum kecut dan enggan untuk membalas, karena Andi pasti akan mudah membacanya begitu saja, lewat ekspresinya.
“Lo kayak orang kesetanan,” Andi mengikuti Tian. “Dua kali gue lihat Lo kayak gitu. Pertama saat Lo baru keluar dari penjara, yang kedua sekarang.”
Saat Tian keluar dari penjara semua yang dimilikinya hancur, termasuk kepercayaan dan nama baiknya. Tidak ada lagi yang tersisa saat itu, bahkan untuk melunasi beberapa cicilan pun, ia hanya bisa mengandalkan kedua temannya.
Tian menghela nafas sambil mengusap kepala dengan handuk, sejak kembali bertemu Aluna, dia menjadi lebih kacau padahal selama ini ia berusaha menjadi baik. Tidak hanya dalam kehidupan asmara, dengan tidak bergonta-ganti pasangan, juga dari sisi kehidupan yang lain. Tiba-tiba saja wanita itu kembali, seolah mengacaukan semuanya yang sudah disusun dengan baik. Tian merasa seolah kembali ditarik pada masa lalu yang ingin dilupakannya, sampai ia tidak bisa tidur nyenyak, isi kepalanya dipenuhi dengan berbagai hal menjengkelkan.
“Gue ketemu Aluna,” pada akhirnya mengaku, percuma saja ia menyangkal.
“Aluna, cewek yang tergila-gila sama lo itu?”
“Iya.”
“Lalu?” Tanya Andi datar, ia tidak begitu tertarik dengan kisah masa lalu Tian dengan banyak wanita dan Aluna salah satunya.
“Dia ngerusak hidup gue.”
Andi menatap bingung, “Siapa? Kuntilanak mana yang udah bikin hidup Lo rusak?”
“Serius, Ndi!” Tian menatap kesal.
“Gue lebih dari serius, sejak kapan hidup Lo dirusak cewek? yang ada Lo ngerusak hidup mereka, kecuali cewek itu jadi-jadian, misal kuntilanak gitu!”
“Terserah!” Tian mendengus.
“Lo udah banyak mainin cewek, ngerusak hidup dan impian mereka dengan janji manis Lo itu, menurut sudut pandang gue, wajar aja kalau ada salah satu dari mereka nuntut balas. Anggap aja lo kena karmanya.”
“Perlu banget bahas karma sekarang?”
“Perlu lah! Lo bayangin aja berapa banyak hati yang udah patah gara-gara lo? Mungkin Aluna salah satunya dan kalau saat ini wanita itu menuntut balas, atau berniat hancurin hidup lo, gue rasa wajar aja sih!”
Tian tidak merespon, ia menatap ke arah lain dan merasa percuma saja bicara dengan temannya itu. Andi tidak akan mengerti bagaimana rumit hatinya saat ini, bagaimana ia berusaha menutupi hatinya dengan kebencian.
“Cewek itu bikin Lo kenapa?” Andi kembali dengan mode serius, menatap ke arah Tian.
Tian menghela dengan tatapan menerawang, mengingat kejadian yang tidak disukainya, hingga menimbulkan kepahitan dalam hati.
“Lo temen baik gue,” Dimas balas menatap Andi dengan tatapan sama serius. “Jangan bilang pada siapapun, ini aib gue.”
“Lo masih meragukan pertemanan kita setelah apa yang kita lewati? Gue benar-benar tersinggung.”
“Oke, sekarang gue mau cerita.”
Setelah menimbang beberapa kali, akhirnya Tian memberanikan diri bercerita. Bukan hal yang patut dibanggakan, justru sepet aib yang ingin ditutup rapat olehnya.
Tian menceritakan semuanya, tanpa ada yang ditutupi termasuk saat Aluna tiba-tiba saja meninggalkannya sehari sebelum penangkapan dan akhirnya Tian di penjara.
Aluna tidak mengatakan alasannya, wanita itu seolah sengaja meninggalkannya saat dalam keadaan terpuruk. Tian memendam kebencian selama bertahun-tahun lamanya dan semakin bertambah saja setelah tahu kehidupan yang dijalani Aluna saat ini.
“Jadi, alasan benci karena dia nggak memohon atau meminta balikan dan pergi begitu saja setelah kalian putus?”
Tian mengangguk, mengiyakan.
“Lo pacaran sama dia?”
“Iya, tapi gue nggak pernah pakai hati. Hanya pacaran biasa aja.” Tian menyangkal.
“Biasa aja dong, nggak usah ngegas gitu! Kalau nggak pakai hati kenapa marah saat Lo tahu wanita itu jual diri?” Andi menaikan satu alisnya, menatap sinis.
“Pertanyaan Lo nggak berbobot!” Tian berdecak kesal.
“Asal Lo tau, dari cerita Lo tentang si Aluna itu, udah jelas punya rasa sama dia. Bukan saat Lo masih sama dia, tapi saat dia udah nggak ada.” balas Andi.
“kembali bertemu setelah wanita itu menjalani pekerjaan barunya sekarang ini, itu pilihan dia dan lo nggak punya hak untuk menghakimi apapun keputusan Aluna. Kecuali,,,” Andi menatap jahil.
“Kecuali kalau lo masih suka dia. Ceritanya pasti beda lagi.”
Tian tidak menjawab, seolah kata-kata yang tersusun di benaknya tersangkut di tenggorokan.
“Coba ingat lagi, kapan lo jadi begitu benci dia?”
Lagi-lagi Tian tidak menjawab.
“Pas tahu Aluna jual diri, kan? Artinya lo nggak terima dengan apa yang menjadi keputusan Aluna dengan kata lain lo masih peduli sama dia.”
Tian menghela, mencoba mengingat kembali kapan ia menjadi begitu benci pada wanita itu.
Sialnya, lagi-lagi Andi benar, karena kemarahannya itu bermula saat tahu Alina bekerja di Bar.
Membayangkan wanita itu mendesah dibawah Kungkungan lelaki lain, seperti siraman minyak di atas kobaran api kebenciannya.
“Seseorang akan menjadi penting saat dia pergi dan lu merasa kehilangan itu bukan patah hati.” Andi menepuk pundak Tian.
“Marah saat tahu dia memilih jalan hidupnya yang dianggap nggak sesuai dengan harapan lo, artinya lo masih peduli. Akui saja, Tian.”
“Tapi gue benar-benar membencinya,” ucapnya tertahan tidak bisa melanjutkan, merasa kebingungan sendiri.
“Bibir lo kenapa? Nggak mungkin ulah Sienna, pengantin lo itu masih di Singapore.”
Tian mengusap bibirnya dimana terdapat luka akibat gigitan wanita itu. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu, dimana ia melecehkan Aluna dan juga kejadian saat di apartemennya. Tian memang sengaja membiarkan wanita itu membalas perbuatannya dengan menggigit bibirnya hingga berdarah. Lukanya cukup besar, bahkan terlihat jelas di bagian bibir bawahnya.
“Kegigit.” jawabnya singkat.
“Ke gigit atau digigit?” selidik Andi.
“Sungkem sih sama yang berhasil dan mampu gigit lo sampe luka kayak gitu.”
Tian tidak menggubris, justru kembali teringat akan kejadian kemarin.
Di akhir ciuman, Tian tidak bisa melupakan ekspresi Aluna yang menahan amarah dan sedih disaat bersamaan. Tubuh wanita itu bergetar dalam pelukannya.
“Sekarang Lo udah tunangan, kehidupan yang dipilih Aluna itu keputusan dia. Fokuslah pada tujuan Lo sekarang, menikah m dan memiliki keluarga lantas hidup bahagia. Itu skenario yang harus Lo jalani dan usahakan sekarang.”
Andi memperhatikan Tian dalam diam,
“Kita teman bukan?” Tian enggan untuk menatap ke arahnya. Ia lebih memilih untuk memalingkan wajah.
“Udah nggak jaman balas dendam, Lo udah sangat dewasa untuk menyikapi semua ini. Gue yakin dia punya alasan mengapa dia seperti itu, itu pilihan dia dan Lo harus menghargainya.”
Meski begitu, tetap saja Tian tidak suka dan marah.