Selesai makan siang, Aku membereskan piring sambil bersenandung kecil. Rasanya aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku. Andi duduk di ruang tengah, sesekali melirik ke arahku dengan tatapan campur aduk—antara penasaran dan sedikit was-was. "Sudah selesai, Sayang?" tanyanya. "Selesai. Ayo kita ke kebun." Aku melepas daster yang ku kenakan di hadapan Andi kemudian menggantinya dengan sarung tipis yang dibaliknya sudah tak mengenakan apa apa. Ku ikat sarung itu sampai d**a seperti kemben. Sengaja Sengaja pilih sarung tipis , warna krem muda, ku ikat sampai d**a yang menonjolkan setiap lekuk tubuhku. Tonjolan d**a tampak penuh dan menerawang. Sengaja. Supaya Andi jadi makin bergejolak memandangiku. Andi menelan ludah saat melihatku. "Sayang... itu... terlalu tipis..." "Aku tahu," j

