Setelah briefing selesai, prosesi dimulai. Pak Penghulu duduk di depan, Andi di hadapannya, aku di samping dengan didampingi Pak Lurah sebagai wali karena ayahku sudah tiada. "Bismillahirrahmanirrahim," Pak Penghulu memulai. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Andi, dengan Munaroh binti Ocit prepet prepet, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan uang lima ratus ribu rupiah, tunai." Semua hening. Aku menahan napas. Andi menatapku sekilas, tersenyum, lalu menjawab dengan suara lantang dan jelas, tanpa sedikit pun ragu: "Saya terima nikah dan kawinnya Munaroh binti Ocid prepet prepet dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan uang lima ratus ribu rupiah, tunai." SAH! Aku tak tahu siapa yang pertama berseru, tapi seketika tepuk tangan bergemuruh. Air mata yang sejak

