Iroh terkesiap. Jarak mereka begitu dekat. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Hendra. Ia bisa melihat butir-butir keringat di dahi lelaki itu, bulu mata lentik yang membingkai mata cokelat hangat, dan bibir yang sedikit terbuka karena menahan berat tubuhnya. Dan aroma tubuh Hendra... aroma khas lelaki sehabis bekerja. Maskulin. Hangat. Aroma yang mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. 'Ya Tuhan...' batin Iroh menjerit menahan sesuatu yang bergolak dalam dadanya. Jantung Iroh berdebar kencang. Bukan karena sakit. Tapi karena... karena sesuatu yang lain. Hendra menunduk, menatapnya. Mata mereka bertemu. "Mbak... kenapa pucat? Masih Sakit?" tanyanya lembut. Iroh menggeleng cepat, terlalu cepat. "Nggak... nggak apa-apa. Ayo, masuk ke dalam rumah." Hen

