Matahari baru saja terbit di ufuk timur ketika mobil mewah Dimas mulai memasuki jalanan desa Sriwedari. Masih terlalu pagi, bahkan kabut tipis masih menyelimuti sawah-sawah di kiri kanan, menciptakan pemandangan yang begitu damai, namun tak se-damai hati Dimas yang sejak semalam merasa gelisah karena terus memikirkan Munaroh. Tangannya mencengkeram setir erat-erat. Jantungnya berdebar tak karuan. Jalan setapak berkerikil yang ia lewati sekarang adalah jalan yang dulu sering ia lalui setiap hari bersama Iroh. Terasa begitu asing namun juga begitu akrab. Jalan ini... Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan ingatan itu datang. Dirinya yang kala itu masih sebagai Andi yang lugu, berjalan di sisi Iroh. Di pundaknya, dua karung besar berisi kacang tanah. Iroh di sampingnya, hanya membawa kre

