Bab 11

1231 Kata

Semua mata tertuju pada pintu masuk, pada sosok lelaki yang berdiri di ambang pintu. Aku sendiri kaget, sekaget kagetnya, bagai disambar petir di siang bolong. 'Andi? Bagaimana dia bisa sampai ke sini? Rumahku kan lumayan jauh, jalan setapak berliku, dan ingatan dia belum pulih. Tapi di sana dia berdiri, tegak, meski kemeja lusuhnya basah oleh keringat dan napasnya sedikit tersengal, seperti baru saja berlari. Tapi yang paling mengagetkanku bukan kehadirannya. Sorot matanya. Mata itu... bukan mata Andi yang selama ini kukenal. Bukan mata polos penuh kebingungan seperti bocil tersesat. Mata yang kini menatap ruangan ini adalah mata yang berbeda, tajem, tenang, dan penuh wibawa. Mata seorang lelaki yang terbiasa diperhatikan, terbiasa berbicara di depan banyak orang, terbiasa mengambil k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN