Bab 10

1793 Kata

Udara pagi di balai desa Sriwedari terasa berbeda. Dari kejauhan, aku sudah melihat kerumunan itu. Puluhan orang berkumpul di halaman balai desa yang sederhana, beberapa duduk di kursi plastik, lainnya berdiri bergerombol di halaman sambil berbisik-bisik. Langkahku terhenti sejenak di depan pagar. Dadaku berdebar tak karuan. Aku mencengkram erat ujung kebaya yang ku kenakan—pakaian terbaik yang ku punya, meski sedikit lusuh di beberapa bagian. Aku sengaja memilih kebaya cokelat tua dengan bawahan jarik batik peninggalan ibu. Setidaknya, aku ingin datang dengan penampilan yang pantas, meski hatiku merasa tak pantas sama sekali. "Dasar perempuan tidak punya malu..." Celetukan itu terlontar dari seorang wanita paruh baya. Samar, tapi cukup jelas sampai ke telingaku saat aku melewati sekel

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN