Aku terkesiap. "Apa? Ih Andi! Jangan ngaco, deh ah! Dia itu adik iparku!"aku mencubit lengannya. "Iya. Itu dulu. Sekarang suamimu udah meninggal, dan kamu udah nikah lagi sama aku. Dia nggak ada hubungan apapun lagi sama kamu. Secara hukum, dia bukan siapa-siapa." "Tapi secara kekeluargaan...." "Sayang, aku lelaki. Aku tahu tatapan lelaki. Dan tatapan Hendra tadi bukan tatapan adik ipar ke kakak." Aku diam. Mencerna. Mungkin Andi terlalu cemburu? Atau mungkin... tidak? "Kamu lebay deh," kataku akhirnya. "Hendra itu orang baik. Dia nggak mungkin..." "Baik atau tidak, aku tetap nggak suka." Pungkasnya. Aku mendekat, duduk di pangkuannya. "Kamu cemburu, ya?" Ia mendengus. "Nggak." "Bohong. Cemburu, kan?" Ia diam. Tapi tangannya melingkar di pinggangku. "Iya, sedikit." Aku tersenyu

