Sesampainya di Rumah sakit, bau desinfektan dan obat-obatan menyengat di mana-mana. Lampu-lampu putih terang membuat segalanya terlihat pucat, termasuk wajahku yang pasti pucat pasi saat ini. Aku duduk di kursi tunggu UGD, tanganku gemetar. Di depanku, pintu ruang pemeriksaan tertutup rapat. Sesekali perawat keluar masuk dengan wajah sibuk, membawa alat-alat medis yang asing bagiku. Andi di dalam sana. Atau...Dimas. Siapa pun dia, yang aku tahu, lelaki itu adalah suamiku. Dia sedang kesakitan. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Helena berjalan mondar mandir di hadapanku. Wajahnya juga tak kalah panik. "Tenang saja nona. Dimas pasti akan baik baik saja" Suara Rico di sampingku. Terdengar menenangkan Helena yang wajahnya terlihat kusut. Helena mengangguk lalu berjalan mendekat ke ar

